Bagaimana Mengatasi Hambatan Dalam Aktivitas Menulis

Posted by Unknown Wednesday, 22 May 2013 0 komentar
Inspirasi, gagasan,atau ide merupakan modal awal seorang penulis dalam membuat sebuah tulisan. Intinya, sebuah tulisan akan sulit dan tidak mungkin terwujud jika tidak didahului sebuah ide.

Alfa Edison mengatakan, “Genius itu 1% inspirasi, dan 99% cucuran keringat,” dari sini semakin jelas bahwa kecerdasan atau kesanggupan berpikir itu, inspirasinya hanya 1% saja, sedangkan cucuran keringat atau kerja keras 99%. Dalam mengarang pun diperlukan kerja keras, memeras otak, atau apa yang dikatakan Edison “cucuran keringat”. Inspirasi yang 1% itulah yang dikembangkan dengan kemampuan yang ada untuk bisa berkembang sampai 100%. Dalam usaha pengembangannya, seorang pengarang memerlukan modal “ kemahiran berbahasa” Indonesia yang baik dan benar. Dalam kemahiran berbahasa inilah terdapat “seni mengarang” yang ditunjang oleh disiplin yang ketat dan berlatih.

Perangi Kebiasaan Menunda-nunda Mencurahkan Ide Kreatif

Setelah inspirasi datang, penghambat berikutnya adalah kebiasaan menunda-nunda. Seringkali penulis pemula terlalu mengandalkan ingatan untuk menyimpan ide-idenya. Padahal, kebanyakan penulis pemula seperti ini akan kecewa karena inspirasi yang bertumpuk di kepalanya mudah hilang dari ingatan, apalagi bila terlalu lama disimpan, ide akan terasa usang dan tidak akan seperti pertama kali muncul dalam pikiran. Berbeda kalau ide itu segera ditulis dalam buku catatan, maka momen saat munculnya ide tidak kehilangan maknanya.

Tidak dipungkiri bahwa sulit memulai adalah masalah yang paling banyak dikeluhkan oleh penulis. Hal ini tidak terbatas pada penulis pemula tetapi penulis profesional pun mengeluhkan masalah ini.
Baik pembuka karangan dalam artikel fiksi atau lead dalam artikel nonfiksi, keduanya mempunyai kesulitan yang sama. Kadang seorang penulis profesional menyarankan agar  “tulis apa saja yang ada dalam pikiran saat itu”. Setelah itu nanti bisa dilihat mana kalimat yang tidak layak dan harus dipangkas serta mana yang harus dipertahankan.

Memerangi Keraguan Untuk Memulai
Secara psikologis, kesulitan memulai tulisan akibat penulis dihinggapi keraguan. Keraguan memang penyakit psikologi yang paling sulit untuk dihindari. Sulit karena karakter manusia yang ingin mendapat sesuatu yang terbaik disamping rasa takut menuai kegagalan, sehingga sering berpikir dua kali bila hendak melakukan sesuatu yang ujung-ujungnya melahirkan keraguan kemudian benar-benar mengurungkan niat untuk melakukannya. Padahal menjauhi keraguan dan mengusirnya jauh lebih mudah daripada mempercayai keraguan itu. Dan ketika keraguan itu sirna, segalanya menjadi mudah.

Alangkah konyolnya mempertahankan keraguan dalam hidup Anda. Ragu-ragu memboroskan energi dan merusak kemampuan alami yang Anda miliki untuk sukses.

Sulit menjabarkan yang dimaksud disini adalah bukan sebatas kesulitan membuat kalimat pembuka tapi kesulitan menyelesaikan artikel atau tulisan tersebut sampai tuntas. Kadang ide sudah ada, tetapi penulis masih bingung apa yang mesti dilakukan dengan ide itu karena begitu “gelap” untuk menjabarkannya.

Penyebab  Kemandegan Untuk Memulai Menulis

1.    Penulis tidak menguasai masalah atau materi yang dibahas

2.    Kurangnya referensi

3.    Tidak jelas kerangka berpikirnya

4.    Belum terbiasa membuat artikel

Tema tulisan adalah hal yang sangat menentukan arah tulisan atau tujuan dari tulisan tersebut. Menentukan tema tulisan berbeda dengan menentukan judul. Menentukan tema harus jelas, padat dan singkat. 

Menentukan tema tidak cukup hanya dengan mencari jawaban atas pertanyaan “apa” (yang dimaksud dengan) tema itu, tapi perlu juga mencari jawaban atas pertanyaan “bagaimana” (pokok bahasan yang sudah ditemukan itu terjadi atau dilakukan).

Dalam menelaah tema, penulis yang bersangkutan juga harus senantiasa ingat bahwa tema yang terlalu luas jangkauannya terlalu sulit digarap. Untuk itu, tema perlu dirumuskan kembali agar cakupannya lebih sempit, tapi konkret.

Boleh jadi hal lain yang membuat Anda selalu kehilangan pokok bahasan adalah Anda tidak mengerjakan tulisan itu dengan sepenuh hati. Padahal kesungguhan hati merefleksikan keyakinan hidup seseorang dan dapat menentukan keberhasilan sesuatu yang ingin dilakukan.

Musuh Terbesar Adalah Melawan Diri Sendiri

Banyak orang mengira bila ia sudah sukses menulis, ia sudah benar-benar percaya diri. Sesungguhnya kepercayaan diri bukan diukur oleh apa yang telah diraih. Jadi, hakikat kepercayaan diri sejati tidak ada kaitannya dengan kehidupan lahiriah. Kepercayaan diri terbentuk bukan dari apa yang diperbuat, namun dari keyakinan diri, bahwa apa yang dihasilkan memang berada dalam batas-batas kemampuan dan keinginan diri.

Malas belajar merupakan faktor penghambat menulis yang melahirkan faktor penghambat lainnya. Kemampuan menulis itu lahir dari kemauan untuk terus belajar dan belajar. Keangkuhan bahwa Anda sudah bisa segalanya dan tidak membutuhkan pembimbing, sesungguhnya Anda sedang menjauhi hal penting untuk sukses. Belajar akan memberi hikmah besar untuk kemauan dan kesuksesan di masa mendatang.

Adanya kenangan buruk yang membekas dalam ingatan sering membuat orang mengeluh, frustasi dan rendah diri. Banyak orang merasa sulit meninggalkan kenangan buruk. Jalan keluar dari kebiasaan ini, kata Richard Carslomn dalam bukunya “Don’t Worry Make Money” adalah dengan menyadari bagaimana rasanya dalam situasi demikian. Kesuksesan adalah sebuah paket, dan bagian dari paket itu adalah kegagalan. Orang sukses adalah orang yang tidak pernah berpikir dirinya kalah, ketika ia terpukul jatuh, ia akan bangkit, belajar dari kesalahannya dan bergerak maju menuju inovasi yang lebih baik.

Dalam kamus sukses, sikap gigih dalam melakukan segala hal merupakan modal berharga. Keberhasilan itu diraih dengan cara tidak selalu mulus ataupun instan. Orang baru bisa percaya diri dapat sukses, bila ia telah benar-benar berusaha secara gigih.

Oleh karena itu, untuk meretas jalan sukses, coba ikuti langkah-langkah berikut :

1. Miliki cita-cita yang realistis

2. Yakin dengan apa yang dicita-citakan

3. Jangan berharap pada “kemujuran”

4. Mulai untuk merealisasikan cita-cita

5. Dalam berusaha harus mempunyai pandangan luas

6. Kuasai keadaan

Memulai Menulis Dengan Ide Cerita Yang Ringan

Feature adalah tulisan ringan. Menurut Williamson, feature adalah tulisan kreatif yang terutama dirancang untuk memberi informasi sambil menghibur tentang suatu kejadian, situasi atau aspek kehidupan seseorang.

Feature secara umum lebih mengandalkan alur, situasi atau juga proses peristiwa, maka dalam penyajiannya harus jelas dan logis. Teknik penulisan yang dapat digunakan adalah gaya menulis cerpen. Hanya bedanya, jika cerpen berisi fiksi sedangkan pada karangan khas berisi fakta-fakta yang aktual dan sesungguhnya.


*Selamat Mencoba*

Baca Selengkapnya ....

Cara Mengembangkan Ide Cerita Dalam Karya Fiksi

Posted by Unknown 0 komentar
Sebuah buku tentang “menjadi ibu rumah tangga yang baik” tentu menarik bagi ibu-ibu, sama halnya dengan buku “menjadi pria yang disukai wanita” akan direbutkan oleh remaja laki-laki yang baru mengenal cinta atau yang sudah dewasa, malah.

Pertanyaan, “Apa yang membuat anda bertahan menyelesaikan membaca sebuah karya fiksi?”. Pasti akan ditemukan beragam jawaban, sesuai dengan apa yang dicari pembaca atas tulisan tersebut. Sekarang kita bedakan, contoh yang saya buat di atas bukan karya fiksi. Sehingga orang tidak perlu repot-repot “pakai perasaan”, mereka hanya menginginkan pengetahuan dari buku itu. Nah, kalau fiksi lain lagi ceritanya. Saat membaca fiksi orang tidak sekadar mencari informasi dari cerita saja, tapi juga keindahan penyajian cerita itu(jangan lupa bahwa semua orang bisa menulis fiksi), dan banyak pilihan bacaan fiksi membuatnya menjadi lebih selektif. Secara umum orang menilai fiksi dari ceritanya, apakah menarik, menginspirasi atau unik. Tapi, secara keseluruhan fiksi bukan hanya tentang cerita, tapi tentang keterampilan menyajikan cerita, semisal: tata bahasa, gaya bahasa, alur, pemilihan diksi, dll.

Bagi saya, hal-hal menyangkut keterampilan menulis adalah sesuatu yang serius. Saya tidak jarang melewatkan membaca sebuah karya fiksi yang gagal menarik perhatian sejak awal-awal kalimat, kecuali memang saya ingin mengoreksinya. Jadi, beberapa hal ini akan membatalkan niat membaca saya:
 
Bahasa yang rumit.

Sepulang dari taman jiwanya, Ratna memeluk puing-puing kesedihan yang mengerontang di bilik hatinya. Anaknya serupa penantian yang tak berujung di sebalik danau putik bunga. Kalaupun orang tua di seberang jalan menjajakan potongan iba, tak ada dampak untuknya. Raganya telah tertelan gelap malam. Dst.

Pernahkah anda membaca fiksi seperti ini? Sering. (Keren ya? Sebenarnya saya suka) Karena saya tak mudah menangkap maksudnya, maka saya lewatkan saja kalimat itu. Langsung ke paragraf selanjutnya. Parahnya, ada sebuah karya yang bahasanya seperti itu sampai ke akhir cerita. Boleh anda mengeksplorasi bahasa demi penyampaian cerita yang menurut anda sangat intim. Tapi, apa anda tak peduli dengan pembaca yang kebingungan?. Fiksi tak selalu harus di puitis-puitiskan. Adalah teman saya penulis cerpen itu. Penasaran saya tanya padanya, apa maksudnya? Dia hanya tersenyum. Saya juga tersenyum. Senyuman itu adalah jawaban yang jelas. Kamu sangat berbakat sebagai penyair, kata saya, menanggapi bahasa senyum-nya.

Bedakanlah antara cerpen dan puisi. Puisi berisi barisan-barisan kata yang bermakna, jelas tak sepanjang cerpen. Jadi, dibutuhkan pemilihan kata yang pas dan (kalau perlu) sangat khusus supaya pesan yang diinginkan mengena (bukan hanya sebagai teks tapi juga sebagai wakil perasaan yang dalam) maka tak masalah jika kadang bahasanya agak rumit. Cerpen tidak begitu, ceritalah yang lebih diutamakan, dengan rentang tulisan yang cukup.  Maka, tak perlu pelit-pelit berdeskripsi, :). Bandingkan dengan novel, tentu lebih luas lagi eksplorasi deskriptifnya.

Sepulang dari taman di samping danau itu, Ratna disengat kesedihan dari masa lalunya yang masih setia mengisi benak. Anaknya pernah hilang di sana. Memang, lelaki di seberang jalan itu selalu mencoba menghiburnya. Katanya, akan mencoba mencari anaknya yang hilang. Ratna hanya bisa tersenyum datar. Bagaimana mungkin anaknya kembali: ia sering bermimpi anaknya ditelan kegelapan. (Misalkan begitu)
*Bukankah menjadi agak jelas ya? Jadi pembaca bukan membaca karena penasaran dengan bahasa nyastra anda (padahal nggak tahu maksudnya apa). Tapi, tertarik pada cerita dan bahasa penceritaan yang mudah dipahami.

Bagaimana pembaca akan mendapatkan pesan tulisan anda, jika ceritanya pun sulit dimengerti dikarenakan pemilihan bahasa yang asal-tembak? (atau yang lebih parah… tersiksa karena ingin membacanya, hehe. lebay.com)
 
Cerita yang tidak logis.

Ini adalah kekeliruan yang sering terjadi, masalahnya hanya satu: penulis tidak menyunting karyanya sebelum ia bagi ke pembaca

Ada kesalahpahaman perihal kelogisan ini. Yang saya maksud kelogisan di sini adalah alur cerita. Bukan tema cerita. Jadi, membuat fiksi tentang lelaki yang bisa mencopot kepalanya untuk ia ganti dengan kepala orang lain, bukan tak logis. Berarti memang genrenya seperti itu.

Kalau misalnya, lelaki itu bosan dengan kepalanya sendiri lalu mencari kepala orang yang lebih rupawan. Tapi, setelah mengganti kepalanya tersebut, lelaki ini diserang berbagai macam masalah lain. Ia tersiksa dan mati oleh ketakutan yang dibawa kepala barunya ini. Begitu saja! Ini baru tak logis.

Kan tidak dijelaskan prosesnya atau syarat-syarat cara mengganti kepala? Logikanya, ya cari saja kepala baru? Bagi pembaca, ketakutan itu tak beralasan. Inilah yang saya bilang, “tak logis”.

Ada pula, perihal deskripsi tentang tokoh yang tak relevan dengan cerita itu sendiri. Memang, paling mudah untuk menjelaskan watak-obsesif tokoh adalah menjelaskan secara langsung. “Ayahnya adalah pria yang sabar” atau “Roni sangat mencintai kekasihnya”. Tapi, kadang tak sesuai dengan cerita. Jika di cerita itu ada peristiwa Sang Ayah meneriaki pembantu yang telat membuat kopi, tentu saja ia bukan penyabar. Kalau menjemput pacarnya saja Roni banyak alasan, apa itu namanaya “sangat mencintai”.

Dalam dialog pun, harus berhati-hati. Jangan sampai-karena ingin berpuitis-seorang anak TK bisa mengucapkan bahasa setingkat sastrawan besar, atau mengucapkan kata yang tak wajar diketahuinya, seperti: transparan, sanguinis, diputarbalikkan, berpeluh oleh rindu, dll. Kecuali, jika anda mampu menjelaskan latar belakang anak itu dengan baik, sehingga menjadi wajar ia paham kata-kata “dewasa” itu (itu pun masih akan menuai ragu).

Ketidaklogisan itu membuat cerita anda menjadi cacat. Maka, sebelum kecacatan itu terendus pembaca telitilah lagi membaca karya anda itu.
 
Penggunaan bahasa dan tanda baca yang tidak tepat

Saya terpikir seperti ini, apa indahnya hidup tanpa aturan (agama misalnya)? Berantakanlah peradaban. Apa indahnya karya sastra jika tak ada aturan berbahasa, bahkan pengajian bahasa inilah yang paling menarik dalam sastra.

Misalkan: Penggunaan huruf kapital, peletakkan titik-koma yang tepat, atau diksi yang tepat guna.
Rasanya tak perlu menjelaskan hal ini. Tak tepat konteksnya (karena saya membahas tentang kepekaan atau akan saya bahas di lain kesempatan), dan pengetahuan ini bisa anda temukan di situs-situs bahasa, banyak sekali, jika anda mau.
 
Pesan yang ingin disampaikan

Yang ini adalah konsekuensi dari ketiga poin di atas. Ya, saya hanya dapat menerima pesan cerita jika ia telah memenuhi paling tidak, dua poin pertama. (Karena kecacatan pada dua poin pertama tak jarang membatalkan saya membaca)

(Saya membayangkan banyak hal lain yang bisa mempengaruhi penilaian pembaca. Karena memang sangat ngesok jika ada yang mengatakan bahwa mereka bisa mengklasifikasikan perihal “penilaian pembaca” ini dengan pas. Maka saya pilih berdasarkan subjektivitas saya saja)

Btw, mulai sekarang, pekalah terhadap perasaan pembaca. Mereka adalah individu yang memiliki standar penilaian. Apakah bahasa yang anda gunakan akan menyusahkan pembaca dalam menerima maksud anda? Apakah cerita di dalamnya cukup logis atau penyampaiannya sudah pas untuk pembaca? Apakah bahasanya sudah benar? Terakhir, apakah bermanfaat untuk pembaca?

Hm, saran saya, untuk yang baru menggiati fiksi, berfokuslah dulu pada dua poin pertama. Akan sangat baik jika anda mempelajari poin ketiga, atau kalaupun sulit, cobalah mencicil pengetahuan tentang berbahasa, paling tidak bisa membedakan yang mana “di” sebagai preposisi dan yang mana sebagai imbuhan. Dan poin keempat biasanya tak dipusingkan bagi penulis, setiap penulis sadar betul apa yang ingin ia pesankan kepada pembaca. Tugas anda hanyalah memastikan apakah pesan itu sampai setelah mereka selesai membaca tulisan anda. Cara paling mudah, posisikan diri anda sebagai pembaca, lalu nilai karya anda secara objektif.

Kenapa hal ini penting? Karena takdir seorang penulis fiksi-genre apapun itu- ada di tangan pembaca. Kalau bahasanya sulit dipahami dan logika ceritanya ngawur, tentu saja memalaskan pembaca untuk membacanya. Kalau sudah masuk perihal kebahasaan, EyD, dan kalimat Efektif, makin rumit lagi. Apalagi jika pembaca itu adalah seorang redaktur sastra media, karya terbaik anda akan dibantai jika tak memenuhi standar bahasa (ya, sedikit-sedikit mungkin tak apa, redaktur media kadang juga punya toleransi jika memang kisah anda itu menarik; oleh karena itu, dua poin pertama di atas penting untuk dikaji)

Saya sendiri pernah dibantai habis oleh teman penulis saya. Tidak bisa dikatakan betapa saya marah dan kesal, saya pun tak henti menggerutuinya setelah itu. Tapi, akhirnya saya sadar, justru ialah orang yang paling peduli dengan kualitas kepenulisan saya. Saya malah bersyukur bisa mengenalnya.

Penulis   : Berry Budiman
editor    : faisal
Sumber : Kompasiana

Baca Selengkapnya ....

Perempuan Berselimut Salju

Posted by Unknown Tuesday, 21 May 2013 0 komentar
Aku tak ingin terlena dan memandangmu dengan tajam...

Cukup sekali saja, kemudian enyahlah..

Bagiku sudah selesai tanpa kebekuan..

Mengapa engkau diam?

Kala hati ingin menyapa...

#

Biar waktu berdetak kencang..

Jangan kau selimuti hatimu dengan salju yang mengguyur seluruh badan...

Diam bukan tanpa alasan untuk bertegur sapa...

Cinta tak akan pernah hilang...

Meski nafas harus kembali keperaduan..

#

Wahai perempuan...

Lisan yang kelu...

Goresan yang menyayat hati....

Membeku bagai patung lilin dipameran....

Terlihat indah, dengan jubah putih berkerah....

#

Perempuan berselimut salju...

Senyummu abadi....

Dalam lukisan hati...

#

Perempuan berselimut salju...

Dingin dengan air mata...

Gelisahmu tak akan pernah selesai...

Karena pencarian tanpa ujung bleum tercapai....

Meninggalkan jejak-jejak dalam kejenakaan...

Menagislah jika semuanya bisa mengurangi bebanmu...

Tertawa Lepaslah, seperti senyum para bidadari surgawi..

#

Perempuan berselimut salju..

Pandanglah aku dengan jiwamu yang suci...

Maka kau akan mengerti..

 Gejolak jiwa yang sulit untuk dipahami..



Baca Selengkapnya ....

Pusaran Energi Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Realita

Posted by Unknown 0 komentar
Ditengah keramaian dan kebisingan, lalu kutulis kata bahwa cinta dan fakta adalah irama yang saling bersahutan untuk melengkapi kekurangan, karena jejak langkah dalam buaian tengadah dan air mata adalah simbol-simbol keinginan yang berlanjut dalam jalan kesunyian.

Hening pun menyelam dipusaran energi keinginan yang terus bergelora dalam titah Tuhan terhadap semesta, bukankah sesama makhluk kita harus saling menyayangi dengan akal dan pikiran sehat, bukan saling menghina, menggunjing, dan mematahkan semangat menuju Rabbnya. Bukankah burung-burung dan kawanan makhluk lain juga senantiasa bertasbih dengan bahasa yang mereka bisa, sehingga kita pun tak pernah mampu untuk menangkap kembali isyarat-isyarat alam yang selalu memberitahukan bahwa Tuhan tak perlu untuk diperdebatkan.

Waktu terus berputar, mengelilingi angka-angka yang dinamis, aku akan selalu ada dalam tiap-tiap rangkaian kata yang menjadi bait. kutuliskan atas dasar cinta meski fakta-fakta kekurangan dan kesederhanaan adalah bagian yang tak terpisahkan.

Malam kian larut..
sunyi kembali lagi...
Desiran angin berhembus dari lubang jendela..
Menyapa dengan sejuknya..
Hati pun berkomat-kamit...
Membaca mantra penyejuk jiwa 
Suara lirih bergumam...Hendak kemana jiwa ini akan berlabuh...
Penuh dengan teka-teki..
Masih sangat misteri...
Akan kah semua keinginan itu akan terjadi..Hanya dengan Meletakkan keyakinan dalam hati secara mendalam, semuanya pasti akan sampai pada waktu dan tujuannya dengan tepat.

Gelombang ini sungguh pasang dan surut, ketika surut batu-batu terjal itu sangat tampak dan keliatan, begitu pula sebaliknya, ketika pasang datang menghampiri, gelombang pun tak kuasa kuhindari..Inilah jalan cinta ini, penuh tanya, tanpa jawaban kepastian. Akhirnya sabar mencari Ridho-Nya.

Meski jiwa cemas dan penuh harap, tidak lantas menyurutkan langkah menuju impian yang kuasa...derai air mata sebagai simbol kekuatan atas keinginan yang menggelombang, seperti burung pagi yang lincah, melompat-lompat dari satu dahan kedahan yang lain, begitulah jiwa ini mengembara tiada henti, memenuhi panggilan jiwa untuk saling bahagia.

Masih terlukis jelas, pada jendela yang berkaca, semakin kupandang, semakin pula tertunduk...berkaca-kaca dan selalu menjadi kisah yang tak akan pernah berhenti untuk kuungkap dalam bait-bait kata yang terhimpun, Meski kita berada dalam pusaran energi cinta yang tersembunyi dijalan sunyi.


Baca Selengkapnya ....

Dibalik Jiwa Yang Sunyi Tersimpan Adegan Misteri

Posted by Unknown Monday, 20 May 2013 0 komentar
Oh...jiwaku yang tak pernah lelah bergerak...

Berjalan tiada henti mencari peraduan..

Hingga pada ujung daun-daun untuk menutupi kering yang semakin kerontang..

#

Sunyinya hatiku...

Berharap dalam keteduhan dan kesyahduan...

Menimang-nimang rindu dan aroma benci yang sesekali hadir menghampiri..

Penuh tanda dan tanya, sekaligus kecemasan yang tak terbatas...

#

Indahnya senyummu..

Dalam diam yang membisu...

Bahasa itu semakin nampak akan kebencian..

Mengarungi bahtera jiwa yang penuh misteri..

Akankah langkah semakin membeku...

Sementara jawaban tanpa kunci, menuai kebingungan dan kebebimbangan...

#

Pahamilah...

Ini jalanku...

Jangan kau ganggu..

Jangan pula kau mendera..

Karena kita makhluk yang tak pernah sempurna...

#

Jalan cinta...

Penuh dengan duri yang diatasnya bertaburkan bunga-bunga yang mewangi...

Jangan dangkal memaknai...

Kesulitan harus dihadapi..

Pada ujung dunia perjalanan akan sampai pada tujuan..

Hingga kita hidup dalam keabadian...

#

Jiwa yang sunyi...

Selamat malam...

Raihlah irama yang selalu menusuk jiwa...

Dan terus berputar dibalik gelisah yang penuh misteri Ilahi





Baca Selengkapnya ....

Tergerak Untuk Bangkit Kembali.

Posted by Unknown 0 komentar
Yakinkan aku berdiri..

Melangkah dengan jiwa berpengetahuan..

Meniti jalan yang penuh dengan nilai estetis..

#

Bangkitkan jiwa ini dari keterpurukan..

Yang melingkar dalam hujatan badai...

Kutahu ini semua ujian..

Dalam langkah yang penuh goresan....

#

Jiwa ini hanyalah setitik yang tak berarti, ditengah-tengah kegaduhan ambisi..

Tangisan jelita hati..

Mengerang antara harapan dan kenyataan..

Bersimpuh pada nilai..

Yang katanya hanya terbentuk dari setetes air hina......

Baca Selengkapnya ....

Jiwa yang Lelah

Posted by Unknown 0 komentar
Jangan kau gundah gulana...

sebab akhir tak ada yang tahu, kecuali yang kuasa..

Awal adalah pertemuan dari satu titik ketitik yang lain, dan berujung pada akhir..

Misteri akan selalu tersimpan dan akan menjadi bayang-bayang..

Dalam kisah engkau mendesah..

Cinta dan rindu kita adalah fatamorgana...

Marilah pegang erat tanganku...

Menyatukan emosi dan pikiran untuk yang satu..

Karena dermaga itu sangat indah, untuk kita pandangi dalam nyanyian kenangan...

Tak perlu kau risaukan, sebab jalan ini masih panjang untuk ditelusuri...

Ingatlah bahwa bercak-bercak itu akan selalu menempel pada setiap kisah...

Dibawah cahaya...

Terkapar dalam hitungan bait-bait kata yang setiap saat aku rangkai..

Untuk menjadi bangunan istana yang indah, sebagai tempat para musafir untuk sejenak singgah.

Kusulam rinduku dengan sekuncup senyummu yang merona..

Sejauh aku memandang, meski kau palingkan mukamu dalam adegan kebencian..

Aku masih sangat yakin, bahwa itu semua hanyalah rekayasa semata yang kau tampakkan secara nyata..

Bila saja waktu tiba, kuncup mawarpun pasti akan mekar..

Untuk menghiasi setitik kerinduan di kalbu...

Aku bukanlah mereka yang memiliki segalanya...

Tetapi aku rasa kekayaan jiwa jauh lebih berharga dari acsesoris yang menghiasi para ratu...

Dalam perjalanan ini, sungguh aku lelah..

Setiap saat bercermin agar selalu menemui kekurangan yang tak pernah sempurna...

Baca Selengkapnya ....

Nyanyian Malam

Posted by Unknown 0 komentar
Tak kuasa menahan perih..

Dalam balutan nestapa..

Membingkai hidup dalam catatan..

Tak ingin lelah jemari ini menari..

Menumpahkan keliaran dan kebebasan...

Atas perbudakan sistem..

Saat kau tertawa puas, kau katakan menang dalam pertempuran..

Sadarkah engkau, bahwa darah itu amis dan baunya menyengat...

Mengapa kau kembali menusuk luka yang sudah parah...

Menunggu detik, saat jamu tak lagi menyehatkan..

Jangan tertawa diatas luka yang berduri dan bernanah...!!

Sebab cinta adalah peperangan menuju kedamaian...

Manis dan pahit akan sangat terasa dalam goresan-gorean malam...

Hingga sujud itu menumpahkan air mata penyesalan....

Baca Selengkapnya ....

Nafasku Adalah Cintamu

Posted by Unknown 0 komentar


Bila hening tak lagi menjadi obat...

Sayap indah patah tanpa keluhan...

Kemana akan terbang, hanya kepasrahan...

Menghampiri dalam tarian bisu...

Bertengadah atas nama cinta...

Untuk membalut rindu yang kian menjadi asa...

Bila saja sang ilusionis...

Menunggang kuda dengan bendera kemerdekaannya...

Dan melepaskan busur pada segenggam pasir keserakahan..

Pada setangkai bunga kamboja..

Kuhirup nafas keindahan...

Menjadi irama syahdu dalam detak jantung yang merona

Baca Selengkapnya ....

Kategory

Flag Counter

Followers