Showing posts with label Catatan Kecil. Show all posts
Showing posts with label Catatan Kecil. Show all posts

Betapa Aku Takut Dengan Bayangmu...

Posted by Unknown Wednesday, 29 May 2013 0 komentar
Malam-malam yang penuh dengan kegelisahan, dan nyanyian sumbang dalam setiap kebohongan tak akan pernah menyelesaikan persoalan, begitu pula dengan peristiwa hidupku yang berjalan pada lorong yang licin dan penuh dengan bebatuan, sesekali aku harus berjalan dengan memperlambat langkahku untuk mencapai tujuan yang selalu menjadi impian.

Antara harapan dan kenyataan, hampir selalu tidak sebanding, apakah rasa syukur yang sangat minim atau bentuk arogansi tanpa sengaja yang selalu ditampakkan, hingga begitu susahnya segenggam restu untuk kudapatkan. Aku sadar bahwa kasih-ibu-yang-tak-akan-pernah-pudar.

Sesudah perbincangan dengan umi pagi itu, betapa gelisahnya diriku, hingga tengah malam dalam lamunan antara cinta dan kasih sayang harus terbelah, dan seakan seperti gelas yang pecah. Pikiranku begitu kalut dan tak mampu menjawab apa yang menjadi keinginan Umi dan segenap keluarga, sementara aku tetap beranggapan bahwa mereka tetap tidak menghormati, apalagi merestui cinta pilihanku.

Apakah aku salah, bila yang kucintai adalah orang jawa? kalau dianggap salah, kemudian dimana letak kesalahannya, itulah gumam dalam hatiku yang menyeruak setiap saat tanpa aku minta...Betapa aku amat menyesal terlahir dalam golongan mereka yang sangat arogan dan beranggapan paling mulia diantara makhluk lain, sementara pikiran dan perilaku mereka sama saja, bahkan lebih parah.

Waktu terus bergulir bak air yang mengalir, detik-detik impian itu akan sampai pada dermaganya..kembali aku merenung dalam kisah yang panjang, ketika aku dalam kondisi yang teramat bahagia, disitu harus tercecer luka-luka, dan ketika aku berusaha untuk mengobati luka itu, maka luka yang lain akan nampak dan muncul, sehingga akupun tak kuasa menahan perih yang sangat sakit dan menusuk jantung itu.

Diruang pojok itu, tanpa bahasa air mata menetes..aku duduk sendiri dalam lamunan yang membisu, betapa ketakutan-ketakutan mulai membayangi dan mempengaruhi hidupku, hingga wajah Umi selalu aku pandang dengan cucuran air mata, betapa nestapanya diriku, ketika dihadapkan pada suatu pilihan yang semestinya aku pilih semuanya, bukan salah satunya, tetapi kenyataan ini terus memaksaku untuk tetap memilih......entahlah, aku jalani saja hidup ini meski ketakutan-ketakutan selalu membayangi didepan kelopak mata pikiranku.

 Bersambung...
 

 


Baca Selengkapnya ....

Bagai Langit Tanpa Bintang!

Posted by Unknown Monday, 27 May 2013 0 komentar
Gelap tanpa terasa sudah hadir menghampiri kegundahan dan kegelisahan yang muncul tanpa aku duga sebelumnya, Tuhan apakah engkau begitu cintanya padaku, hingga engkau memberikan ujian yang kadangkala aku bingung dengan semuanya. Ketika jiwa ini harus menjerit dengan tangisan yang sahdu, pada siapa pula pengaduan itu aku lepaskan, bak busur yang menancap pada dinding besar. Seperti sendiri dalam alunan irama yang mengebiri.

Langkah terseok, air mata rasanya tak pernah lelah mengalir dalam kidung cinta dan emosi yang membara bersahutan, menggenggam keyakinan yang tak ingin lusuh oleh waktu dan zaman, sampai kapan akhir dari persoalan yang telah kumulai ini hingga usai.

Semangat ini tidak boleh runtuh, meski gelombang besar menghantam dalam pusaran keyakinan, sebab cinta, luka dan bahagia adalah sepasang kekasih yang tak akan pernah hengkang dalam lukisan sejarah.

Seperti air yang mengalir menyusuri lembah..
Tiada henti untuk berkiprah..
Dengan pengetahuan dan keyakinan..
Aku terus melangkah dan belajar..
Hingga malam datang menjelang..
Dalam gelap yang bertautan..
Sebab cahaya tak lagi merekah..
Dalam pesona hidup yang memerah..

Laksana langit tak berbintang, gelap yang jauh cukup panjang, tanpa cahaya sebagai penerang, terseok dan tertatih merangkai bait-bait kehidupan menjadi bangunan indah yang penuh dengan makna surgawi. sepi sendiri seakan tanpa siapapun untuk berteduh, sekedar melepaskan keluh-kesah, semuanya lari tanpa ada hitungan jarak, hanya kepentingan sesaat, kemudian menyelinap dan menghilang dalam gelap.

Hanya setitik keyakinan yang ranum, masih aku terus lestarikan sebagai jalan sekaligus penerang untuk menggapai impian yang panjang.

 
 


Baca Selengkapnya ....

Kalian Jerat Aku Dengan Benang Sutra Kemewahan

Posted by Unknown Sunday, 26 May 2013 0 komentar
Ketika sang buah hati terlahir pastilah keinginan besar sang ayah bunda mengharapkan yang terbaik untuk anaknya,akan tetapi jalan manakah yang akan di pilih? Teka-teki masih bergelayut dalam pikiran dan bayangan.

Ketika berumur 1-6 tahun adalah masa 2 kepekaan otak bawah alam sadar seorang anak

Orang tuaku sangatlah keras hingga ke bawa ke dalam bawah alam sadarku hingga dewasa masih melekat kuat, takut berucap,takut bertindak karena kerasnya seorang bapak dan ibu hingga membunuh semua kinerja otakku, dan masa-masa itu masuk kebawah alam sadar. Mereka masih mengikuti tradisi jaman dahulu tanpa memandang masa sekarang, aku tidak pernah di beri jalan untuk berkembang dengan segenap keinginan dan kemampuanku, pada akhirnya aku masih dianggap seperti anak kecil, yang harus dibiming untuk berjalan.

Apapun itu harus mengikuti apa kata orang tua, beruntung aku sekolah di pondok pesantren modern yang lepas dari lingkaran keluarga selama enam tahun, dalam perjalanan enam tahun itu aku dapat membuktikan bahwa aku bisa berkreasi dan otak pun mau bekerja keras sesuai keinginan hatiku, prestasiku dapat juara dengan kemampuan yang tinggi aku raih, mesi tak sempurna harapan, tapi apa daya ketika lulus aku harus berhadapan dengan mereka kembali, dan lagi-lagi aku ada dalam aturan yang tidak memungkinkan aku untuk berkembang, namun dengan usaha dan upayaku yang sangat keras untuk mengembalikan performa otakku sedia kala seperti waktu Smp/Sma tetap tak menuai hasil, orang tua mana yang menginginkan anaknya gagal dalam segala hal? jawabnya tidak ada, orang tua mana yang mau menyesatkan anaknya? jawabnya pun tidak ada. Akan tetapi ada orang tua yang membuat anaknya jadi tersesat dan gagal, keinginan keras demi orang tua pun sia-sia karena satu kata dari orang tua yang terucap kemudian itu fatal yaitu “ tidak mengikuti kata orang tua dan berbohong pada orang tua bisa ngak selamat” 

Kembali lagi otakku tercemari dan harus dicuci sesuai keinginan mereka dengan dalih itu yang lagi-lagi mengganggu aktifitas otakku, kosentrasi pun buyar, okelah aku ikutin aturan mereka, namun aturan mereka membuatku seolah-olah kebingungan dalam berjalan,gelap terasa memandang jauh kedepan, karena bertentangan dengan segenap karakterku yang bias dikatakan sedikit liar untuk berkreasi, sedikit demi sedikit pun aku kasih penjelasan pada mereka dengan lemah lembut tapi mereka menolaknya dan menganggap aku mulai berani melawan titah orang tua yang harus menjadi raja, tanpa harus ada penolakan sedikitpun, bicara dan kurang ajar pada mereka, seiring waktu seperti itu terus berjalan seolah tanpa batas, selalu aku cari jalan agar performa otakku kembali semula, tapi itu hanya sia-sia belaka, dengan kerasnya mereka aku serasa buta masa depan, aku tidak dapat menentukkan masa depan mana yang aku pilih? serasa di depan itu gelap gulita, yang ada adalah menggantung pada mereka, rasa ketergantungan itu makin menjeratku pada lingkaran panas, “ kamu minta apa saja orang tua kasih asal nurut pada orang tua” ok, aku lakukan, demi kebutuhanku kuliah aku minta pada mereka, apa pun aku bicara pada mereka. Aku tidak sadarkan diri jika segala pemberian itu makin  menjeratku, hingga masalah waktu pun terbatas untukku, aku rasa ruang gerakku makin di belenggu.

Bagaimana aku bisa berkreasi dan otakku mampu bekerja sebagaimana orang-orang yang berfikir jernih?...
Pertanyaan itu slalu bersemayam di pikiran hingga memakan semua kemampuan fisikku dan jatuh sakit,sakit pun masih di salahkan yang tidak nurut sama mereka lah,kesehatan tidak dijaga lah,mereka bicara “ nak jangan terlalu banyak beban mikir,inget kesehatannya” iya..tapi siapa yang mampu mengurangi beban pikiranku sedangkan aku harus dan selalu memikirkan aturan yg mereka buat, kemudian aku jujurkan pada mereka apa yg menjadi penat di otakku..tapi jawaban dan tanggapan mereka menolak kejujuranku,cuman bisa bicara kalau orang tua itu paham prasaan anak,orang tua itu peka tapi apakah itu yg disebut peka segala sesuatu yang ku ungkapkan dianggap tidak sopan terhadap orang tua,hingga otakku bertindak tidak terkontrol dan membuat sebuah keputusan “ apalah artinya kejujuran jika tidak di terima?maka kebohongan itu lah kejujuran bagi mereka”  aku jalani hidup ini penuh dengan kebohongan pd mereka,dosa lah aku,tapi ALLAH MAHA MENGETAHUI SEGALANYA. Segala ucapan yg keluar untuk mereka sedikit pun tidak ada unsur kejujuran,aku mulai lagi menginginkan sebuah suasana dingin dg sebuah kejujuran yaitu soal pasangan hidup, mereka melonjak tinggi dengan berkata “ awas ya jangan sampai dapat selain kalangan kita sendiri,kalangan kita jg banyak yg lebih baik” tanpa ada alasan yang benar-benar jelas dari mereka dan juga berkenaan dengan agama kemudian muncul pertanyaan kenapa aku tidak boleh memilih jln hidupku sendiri…semakin buta lah apa yg ada di depan hadapan ku ini. Tidak ada 1 pun dari saudara2 ku yg mendukung aku dalam memilih jalan hidupku,seolah2 langkah2 ku mereka lah yg menjalankan,
 
ungkit demi ungkit terjadilah perdebatan antara aku dengan saudara-saudaraku, ternyata apa yg slama ini mereka beri hanya lah semata tuk memimpin langkahku,mereka berkata “ kamu kurang apa orang tua berikan sama kamu?km minta apa saja di beri,tapi begini caranya kamu berbalas budi?biaya orang tua untuk kamu gak sedikit,kamu bisa beri apa ke orang tua? “ aku shock sekali dengan pertnyaan2 itu kata2 itu mematahkan sendi2 pergerakanku. Fatal sekali,jadi pemberian mereka hanya lah senjata bagi mereka yg siap di luncurkan saat aku berdiri tegak, lalu..jika tidak pada mereka aku meminta biaya hidup slama aku ada dalam pendidikan kepada siapa lagi?apa kah itu yg disebut orang tua?lalu mana orang tua ku yg bener2  ikhlas pada anaknya?mendapatkan jawabannya sangat sulit. Aku hanya mencari dan berharap ada seorang yg dapat mengulurkan tangannya kemudian menarik aku keluar dari lingkaran itu. Dengan usia yg sedemikian masih dianggap anak kecil..

Tapi dengan kebohonganku pada mereka menghasilkan daya kerja otakku kembali,aku mendapatkannya,aku sedikit dapat bicara,yang awalnya ada di otak tapi tidak dapat di ucap namun dengan demikian sedikit demi sedikit otak dan hatiku mulai bekerja sama.
 
Aku terus berlari, lari dan lari…trauma rasanya saat aada perkataan tentang kata2 keluarga..karena keluarga aku lemah,karena keluarga masa depanku gelap,karena mereka juga kesuksesanku tertunda yang tidak dapat diketahui hingga kapan.
TIDAK SEMUA KELUARGA ITU BENAR MENURUT PERSEPSI MEREKA, MESKIPUN WUJUDNYA BAIK.

By: Pein

Baca Selengkapnya ....

Para Pelayan Tuhan..

Posted by Unknown 0 komentar
Kurenungi malam ini, bentuk kegelisahan hati yang tak berujung, menuai tanya tanpa ada kepastian dalam hruk pikuk kehidupan mencari sebongkah kebenaran yang hampir setiap saat diplesetkan oleh pikiran-pikiran nakal dan liar.

Seakan tanpa jejak kita mencoba membangun dan merangkai kembali tuhan-tuhan baru untuk dilayani, tuhan sebagai pemuas kenikmatan dan kesenangan yang arogan. Kembali merebak dalam berbagai bentuk keyakinan yang terstruktur oleh aturan-aturan yang mengikat dan mengharuskan pikiran-pikiran liar itu harus patuh dan tunduk pada aturan yang seringkali dipaksakan dengan atas nama adat-istiadat yang hukunya wajib untuk diikuti. keliaran pikiran kahirnya terpenjaran dalam ruang yang terbatas.

Sepertinya aturan itu adalah hasil pikiran-pikiran yang disepakati secara berkelompok, siapapun denggan rangkaian bahasa yang indah dan apik, berupaya membuat pembenaran-pembenaran dengan berpedoman pada akal yang licik untuk mempropaganda pembenaran dengan mengatasnamakan kitab yang paling suci sebagai pedoman untuk melayani Tuhan.

Tuhan yang mana untuk dipatuhi dan dilayani setiap saat? apakah Tuhan perlu untuk dilayani? semuanya hanya ada dalam hati setiap insan yang bertuhan...

Makin banyaknya agama sebagai keyakinan untuk berjalan menuju yang hakiki, justru menambah kebingungan dan ketidakberdayaan pemeluknya, semua berdalih bahwa kita sebagai manusia wajib hukumnya untuk melyanani Tuhan, apakah itu sebagai bentuk doktrin, dengan membersihkan otak-otak yang sudah penuh dengan kesibukan setiap saat, dan untuk mencari kedamaian dalam hati, dengan menjadi pelayan Tuhan..

Bukan dalam rangka mendiskreditkan para perempuan yang harus bersimpuh untuk menjadi orang nomer dua, tetapi lembah persoalan yang seringkali menjadi kontroversial, berawal dari keinginan-keingina yang meletup-letup dalam diri, masih ingatkah perempuan pertama yang bernama ibunda Hawa sebagai selimut cinta bagi sang Adam, disitu masih banyak penafssiran yang cenderung debatebel, mengenai hal diperbolehkan ataupun sesuatu yang dilarang, dan pihak ketiga tetaplah berperan sebagai sang penggoda untuk merayu dan melakukan hal dilarang, yaitu melahap buah khuldi ditengah taman surgawi.

Jika kita pelayan sejati Tuhan, maka layanilah Tuhan, Jika kita pelayan iblis, layanilah iblis itu dengan sepenuh hati, Jika kita pelayan diri dan Tuhan maka seimbangkanlah perjalanan menunju kedamaian, semuanya memiliki konsekuensi yang harus dijalani, tak peduli apakah engkau orang hitam, putih, kuning langsat, atau orang yang berkulit sawo matang.

Pelayan-pelayan Tuhan, apakah bidadari surgawi, atau para bidadari yang masih berkeliaran dan masih menghembuskan nafas didunia, masih penuh dengan tanda tanya yang tak terpecahkan, meski banyak pembenaran-pembenaran dalam kitab suci yang menjadi keyakinan pada tiap-tiap agama yang dianut.

Para pelayan Tuhan pasti cantik dan eksotis, sehingga yang memandangnya akan takjub dan terpana...silau oleh keinginan dan nafsu yang ambisius.

Baca Selengkapnya ....

Jangan Nodai Kursi Itu Dengan Kotoran Sapi..

Posted by Unknown Saturday, 25 May 2013 0 komentar
Seperti melupakan maut yang pasti akan menjemput pada waktunya, semua makhluk pastilah akan merasakan, diujung sana masih kulihat bentuk tawa yang berantakan, karena sudah mendapatkan apa yang menjadi keinginan, sehingga itupun menjadi alur yang panjang, dimana para selir-selir senantiasa nongkrong untuk mendapatkan upah sekaligus kepuasan.

Kepercayaan kami seperti dipreteli oleh banyak kepentingan yang bersifat pribadi, dengan dalih kemaslahatan ummat atau menjadi kebaikan seluruh rakyat, tetapi fakta liar yang meliuk bagai ular, "tidak mampu" menjaga, mempertahankan, bahkan mengembangkan amanat tersebut seperti janji-janji mereka yang kerapkali dilontarkan pada setiap kampanye, terasa semuanya hanya omong kosong untuk membuai kami yang sungguh cukup tidak tahu terhadap permainan.

Kursi yang empuk nan indah, menjadi rebutan semua orang yang berkepentingan dengan niat yang sangat beragam, apapun bentuknya itu semua adalah kursi rakyat, dan kalian yang duduk dengan nikmatnya, adalah pemberian rakyat, pemberian rakyat yang sesungguhnya tanpa meminta imbalan yang muluk-muluk, justru kalian berpikir itu semua adalah ladang untuk memperkaya diri dan memuaskan hasrat birahi tanpa pandang bulu.

Sampai kapan kursi penentu kebijakan itu terus menerus dikotori oleh otak-otak yang tak memiliki visi untuk kebaikan dan pembangunan  negeri ini? atau semuanya harus dirombak secara besar-besaran dengan nama Revolusi, atau mungkin saja semua akan berjalan dengan jalur otak udang..entahlah, urusan penguasa yang tahu adalah penguasa, dan rakyat seperti kami tidak berhak bahkan tidak boleh tahu dengan hasrat mereka yang dibungkus dengan namanya program.

Program itu katanya berbentuk konsep dan menjadi sistem yang memiliki alur, tetapi kami juga tidak tahu alur dan sistem seperti apa yang harus dijalankan untuk merealisasikan yang namanya program itu, tentu saja penguasa lebih tahu dari kami.

Rakyat yang tertindas, bahkan harus dilindas kepalanya sampai remuk dan tak bergerak, apabila kami memberontak atas kelaliman dan kebijakan yang hanya memihak pada pribadi dan kelompok, siapa yang dekat, maka mereka akan diangkat, yang penting jangan banyak komentar dan kritik.



Baca Selengkapnya ....

Berkelana!!

Posted by Unknown Friday, 24 May 2013 0 komentar
Sepanjang waktu bergumam dengan alam, manusia, dan Tuhan, Menumpahkannya dalam bentuk tulisan, masih sulit untuk dipahami kemana arah ini akan mencapai puncaknya, ketika banyak tangga yang harus dilewati.

Jujur bahwa pengembaraan ini masih belum sebanding dengan pembelajaran yang kudapatkan, masih banyak celah-celah yang belum kutemukan dan juga masih belum terjawab sepenuhnya atas kegelisahan yang seringkali tumpah dalam aliran sunyi.

Ketika Tuhan mengatakan : "Aku tidak akan merubah nasib suatu kaum, kalau Kaum itu tidak merubahnya sendiri", perlu dicermati kembali, apa yang menjadi Statemen Tuhan dalam ayat yang menurut penulis pribadi kebenarannya tidak diragukan lagi, dan tentu saja hal itu bisa kita buktikan bersama-sama. kemudian muncul dalam benak, membuat suatu perubahan itu berapa persenkah dalam diri, dan juga berapa persen kehendak Tuhan ikut campur dalam kerangka membuat perubahan tersebut? masih menjadi teka-teki dan juga masih serba misterius, yang pada akhirnya semua terserah pada finishing Tuhan.

Menjadi seorang musafir dan bertahan dalam situasi yang akut memang tidak mudah, tidak banyak orang yang istiqomah memperjuangkan keyakinannya, bahkan yang lebih menyakitkan, ketika keyakinan hanya dijadikan topeng untuk meraup kekayaan. mungkin saja itu benar menurut persepsi mereka, atau mungkin saja bahwa semua yang ada dimuka bumi ini hanyalah permainan dan panggung sandiwara saja.

Siapapun pasti akan mengatakan bahwa hidup ini adalah perjalanan, ibarat sang waktu yang berputar dari satu titik ke titik yang lain, sehingga pada saat-saat tertentu perlu singgah untuk merenungkan kembali kesalahan-kesalahan yang terjadi, sebagai salah satu refrensi untuk melakukan yang terbaik.

Aku berkelana dalam kesendirian yang sunyi, semakin masuk kedalam dan terlena dengan kegilaan-kegilaanku dengan pikiran, perasaan dan tulisan, tak ingin berhenti, meski badai ekonomi menjadi ranjau-ranjau dimana-mana yang tak bisa kupungkiri keberadaannya menjadi jebakan yang mematikan.

Sepanjang waktu berpikir untuk menjadi yang baik dan terbaik, dari banyak gerakan yang hidup dalam tulisan.





Baca Selengkapnya ....

Semangat Menulis Fiksi, Dari Mana Datangnya?

Posted by Unknown 0 komentar
Sulis Gingsul membuat akronim baru yang mengesankan yaitu lisal (tulisan asal). Lisal sebenarnya sama dengan puisi. Namun, lisal mempunyai kekuatan yang menyegarkan. Mengandung semangat untuk menulis puisi bagi siapa saja. Barangkali pesan yang ingin disampaikan Sulis Gingsul melalui lisal adalah : mari menulis puisi, siapapun Anda, ya siapapun pasti bisa untuk merangkai kata dengan indah, karena menulis fiksi harus mengerahkan imajinasi, bagai orang melukis yang tak pernah puas dengan apa yang dilukisnya.

Sastra bumi sebenarnya senada dengan lisal. Pesannya adalah siapapun bisa dan boleh menulis sastra. Sastra bumi yang dimaksud di sini bisa cerpen, bisa juga puisi, juga sastra lainnya. Sastra bumi tidak mementingkan bakat, namun mementingkan proses : semakin terus dsdilatih, maka pasti bisa, hanya butuh waktu dan pikiran myang tenang, serta suasana jiwa yang damai.

Nah, pengembangan dari sastra bumi dan juga terinspirasi dari lisalnya Sulis Gingsul, maka ada istilah fiksi “Sedap”. Ini mungkin hanya semacam hipotesa kecil-kecilan mengenai sebuah cerpen yang mempunyai ciri : sederhana dan apik. Maka dari itu sedap merupakan akronim dari sederhana tapi apik. Cerpen sedap berarti cerpen yang sederhana tapi apik.

Sederhana

Menulis cerpen sederhana tidak bisa dianggap enteng. Bahasa yang sederhana adalah bahasa yang mengalir. Gaya bahasa yang digunakan terang benderang, artinya jelas sejelasnya. Karena itu enak ditulis dan enak dinikmati. Enak ditulis asalkan banyak latihan.

Apik

Tulisan yang apik berarti tulisan yang bersih dan bagus. Bersih berarti minim kesalahan, bagus berarti mempunyai kesan yang mendalam bagi pembacanya. Kesan yang mendalam bisa berupa ceritanya yang menarik, pesan yang ditinggalkan yang inspiratif, dan sebagainya.

Cerpen sedap dapat dipadankan dengan genre realisme naturalisme. Genre ini dikenal juga dengan genre minimalis. Ahmad Tohari, Aba Mardjani, dan Hemingway merupakan cerpenis yang kerap menulis genre jenis ini.

Cerpen sedap seperti ingin mengatakan, bahwa menulis cerpen sederhana adalah sah untuk dikembangkan dalam ranah fiksi, sebagaimana jenis cerpen lainnya.

Baca Selengkapnya ....

Tuhan : Jangan Biarkan Aku Tenggelam Dalam Kesesatan..

Posted by Unknown 0 komentar
Bila saja waktu bisa disamakan dan disejajarkan, mungkin saja aku ingin mengulang kembali pelajaran yang telah lama kulupakan, mengingat kembali, mengulang, memahami, dan kemudian bertindak dalam kehidupan yang sebenarnya, bukan lantas menenggelamkan diri dalam kebingungan dan ketidakpuasan terhadap apa yang telah dicapai, apapun itu sangat tidak pantas untuk disesali kembali, kecuali hanya jadi pembelajaran untuk berbenah diri.

Siapapun itu orangnya, ketika dalam situasi dan kondisi yang sangat terdesak, bahkan keterdesakan tersebut bisa dikatakan diujung puncak, maka ia akan menyebut sang pemiliki kekuatan yang maha dahsyat meski dengan kebingungan dan ketidaktahuan yang dimiliki. Ada yang menyebut oh..Allah, ada Tuhan, ada oh My God, ada yahweh, ada sang hyang widi, dan tentu pula ada Tuhan-tuhan baru yang sengaja diciptakan untuk memecah gelombang keyakinan.

Tuhan...Tuhan jangan tinggalkan aku sendiri, yang terpojok pada ujung yang gelap, butuh waktu belajar untuk memahami dan mengerti, serta mencari apa yang belum diketahui. akankah engkau meninggalkanku sendiri? dalam kesesatan yang seringkali tidak aku pahami dan kadang tidak disengaja, tuntunlah aku pada jalanmu yang benar menurutmu, bukan menurutku. Aku bergumam dalam hati, mencari jawaban yang tercecer tanpa kepastian.

Teka-teki hidup pun mulai menggelayut dalam pikiran dan bayangan yang kadangkala hadir tanpa aku undang, memandang wajahmu, terasa menyejukkan dan mendamaikan, apakah Tuhan telah menciptakanmu untukku, atau hanya sebatas ilusi dalam kerangka koneksi sosial, entahlah aku juga tidak tahu, sampai kapan keadaan ini akan melingkar yang terus menjadi pusaran dan semakin membesar saja.dimana aku harus mencarinya, Apakah kuharus mencari-tuhan-di-lorong-gelap, entahlah!

Berjalan pada telaga sunyi, sendiri dan menyendiri..merenungi dan melihat kembali pada jiwa yang terdalam, bahwa keinginan untuk mengungkap misteri kehidupan ini merupakan catatan pokok untuk mendapatkan jawaban langsung dari Tuhan seru sekalian alam.

Tidak mengapa engkau memusuhi sekaligus membenci secara bersamaan, meski beribu maaf tetap terkunci...biarlah Tuhan yang akan menilai, karena Dia-lah tempat satu-satunya bergantung dan memohon, dan membiarkan sang waktu berjalan seperti apa adanya.

Aku Mohon pada-Mu Tuhan...Sebesar apapun ujian dan cobaan itu, maka sesuaikanlah dengan kapasitas yang kumiliki, segalanya di akhir sandiwara akan berpulang kepangkuan-Mu.

http://smartbookpenyair.blogspot.com/2013/05/mencari-tuhan-dilorong-gelap-ii.html

http://smartbookpenyair.blogspot.com/2013/05/mencari-tuhan-dilorong-gelap-iii.html

http://smartbookpenyair.blogspot.com/2013/05/para-pelayan-tuhan.html



Baca Selengkapnya ....

Bukan Tak Ingin Hadir Untuk Menjemput Cinta-Mu

Posted by Unknown Thursday, 23 May 2013 0 komentar
Siang ini mentari begitu sempurna memancarkan cahayanya, meski terasa sedikit panas menyengat pori-pori tak harus menghentikan langkah untuk menjadi diri yang sempurna, namun kenyataan ini begitu sulit untuk dipahami, tidak perlu jauh-jauh menilai dan mengevaluasi orang lain atau orang-orang disekitar kita, cukuplah kita mengevaluasi diri sendiri, mengenai kekurangan, kelebihan, suka, duka, dan seterusnya.

Aku masih bingung, dan dalam lingkaran ini masih belum finishing untuk melihat, mendengar, membaca, memahami, mengoreksi pergolakan dalam diri. Bukan lantas pembenaran-pembenaran yang acapkali hanya menjadi topeng-topeng kemunafikan, barangkali siapapun diri ini menginginkan yang terbaik dan suci, tetapi bukan dalam rangka arogansi dengan ke ber-Tuhan-an kita sebagai ummat yang berkeyakinan monoteisme.

Identitas sebagai simbolik pengenalan memang perlu adanya, tetapi tanpa harus menghilangkan bahkan membunuh bentuk yang esensial dalam diri, karena hidup ini adalah perjalanan yang memiliki banyak arah dan tujuan, ketika langkah ini salah, tentu akan menuai kritik dan dampak negatif yang akan didapatkan, begitu pula sebaliknya, langkah yang benar akan selalu terkoneksi dengan Tuhan sebagai satu-satunya tempat bergantung tanpa tendensi apapun.

Semakin banyak persepsi yang muncul yang cenderung kontroversial satu sama lain, terkesan bahwa Tuhan dikebiri dan mau diatur oleh kita, sementara Tuhan sendiri sang maha pengatur alam jagad raya, dan manusialah yang sesharusnya menerima aturan tersebut. Persepsi yang muncul dan berkembang seiring dengan kondisi Zamam yang kian berubah, sehingga bangunan dari pola pikir pun juga muncul pergeseran.

Bukan tak ingin hadir atas apa yang Engkau perintahkan,  untuk menjemput cinta dan kedamaian-Mu, namun hatiku masih bergejolak, dan aku masih memohon dengan sangat untuk dispensasi dan toleransi, jika engkau Bekenan ya Tuhan-ku....dan jika tidak berkenan mohon siksamu yang sanggup aku bawa untuk berlari dengan derai air mata yang penuh penyesalan dan pengabdian hanya untuk-Mu.

Aku tahu bahwa perintah itu sudah terangkai dalam huruf-huruf yang terangkai dalam kitab suci yang bernama Al-Qur'an, disitu sudah sangat jelas pada satu sisi, namun pada sisi yang lain penuh dengan penafsiran yang membuat dunia dan kehidupan ini berjalan dengan dinamis dan berkembang sepanjang waktu.

Tuhanku tak perlu dibela, dan akupun tidak pantas mengeluarkan surat pembelaan atas gejolak yang selalu muncul setiap saat yang terus bergelombang dalam hati.

 
 



Baca Selengkapnya ....

Tiada Hari Tanpa Menulis

Posted by Unknown 0 komentar
Hidup ini memang sudah terangkai dalam bentuk huruf-huruf yang digariskan oleh Tuhan, sehingga dalam ajaran agam pun hal ini disebut dengan takdir. Setiap inidividu telah menuliskan garis kehidupannya sesuai dengan persepsi dasar yang telah menjadi profesi dalam merangkai cerita dipanggung kehidupan ini.

Dalam perjalanannya, banyak cara dan strategi yang ditempuh oleh manusia, secara umum ada yang konsisten dengan apa yang diyakini untuk diwujudkan, dan ada yang tidak konsisten, karena beranggapan bahwa hal itu tidak akan terswujud, dan hanya bermukim dalam angan yang berbentuk impian semata.

Menjadi apa yang kita inginkan dalam bentuk persepsi dan keyakinan, kami rasa memang tidak mudah, apalagi untuk mewujudkan dalam dunia nyata yang bisa dirasakan oleh penulis, pembaca, dan yang pasti masyarakat umum untuk diajak merasakan manfaatnya, dengan membaca dan menulis, kita berusaha untuk menuangkan ide, gagasan, pemikiran, dan pesan untuk pembaca, sehingga manfaat tersebut bias dirasakan secara perlahan-lahan dan mendalam, dengan dikerangkai niat yang tulus dan dengan tujuan ikut serta mencerdaskan anak bangsa menuju kehidupan yang beradab.

Dengan menulis menjadikan diri lebih berkualitas, berpengetahuan, dan berjalan dengan obor kebenaran, walaupun tidak bias kita pungkiri, kalau bicacra kebenaran masih sama-sama mencari Kebenaran yang sesuai keyakinan dan terkoneksi dengan kehendak Ilahi Robby.

Tidak semua orang suka dengan profesi  penulis, apalagi gagasan-gagasan yang dituangkan cukup controversial untuk dikonsumsi oleh masyarakat umum, begitu pula argumentasi-argumentasi yang tertuang tersesbut ada indikasi mendiskreditkan salah satu kelompok, baik hal itu kelompok Orpol, Ormas, maupun tulisan yang mengarah pada tendesi kekuasaan.

Gagasan dan pendapat dalam bentuk tulisan menjadi sorotan tersendiri, baik tulisan tersebut berbentuk fiksi, non fiksi, maupun tulisan yang berbentuk faksi, karena pada hakekatnya huruf-huruf itu memiliki bentuk dan wujud yang bisa dibaca, dipahami, dimingerti dan pembaca merasakan langsung dari maksud dan tujuan dalam rangkaian huruf yang telah menjadi bait-bait yang menyatu menjadi paragrafh.

Kami akui tidak mudah menjadi seorang penulis professional, yang murni menuangkan gagasan beserta argumentasinya yang akurat, sebab penyajian data, peristiwa baik yang langsung maupun yang tidak langsung disusun menjadi kronologi tulisan.

“Tiada Hari Tanpa Menulis”, merupakan hal ikhwal bagi kami untuk terus aktif menulis dalam konstek situasi dan kondisi yang berbeda, karena kami masih berkeyakinan, bahwa sesuatu yang kami kerjakan tanpa adanya istiqomah, maka sesuatu yang kami harap dan kami dambakan tidak akan pernah terwujud dalam kehidupan ini.

Barangkali inilah jalan hidup yang menjadi pilihan, meski hari ini kami tidak mendapatkan upah yang melimpah ruah, dan masih belum juga meraih kesuksesan, seperti penulis-penulis besar lainnya, tetapi hal ini sebagai ladang untuk belajar, mengasah diri, mempertajam analysis, dan terus memantau perubahan demi perubahan dalam konstek social, baik dalam bangunan budaya, ekonomi, politik, birokrasi, social-kultur dan seterusnya.

Dengan demikian catatan kecil yang kami rangkai menjadi sebuah karya, baik itu fiksi, faksi, maupun non fiksi, pada kenyataannya hal ini adalah bagian dari proses diri untuk belajar dan menjadi insane paripurna yang bermanfaat dan memiliki manfaat baik untuk diri sendiri, keluarga, dan tentu saja bagi masyarakat secara umum.

Baca Selengkapnya ....

Pusaran Cinta Untuk Memilih!!

Posted by Unknown Wednesday, 22 May 2013 0 komentar
Mentari yang tertutup awan hitam menjadikan suasana hati semakin tidak karuan, meski hidup  selalu diiringi dengan senyuman, namun goresan-goresan luka dalam hati tidak bisa kita singkirkan begitu saja, sebab cinta, air mata, dan canda tawa sebagai simbol kebahagiaan adalah pertautan yang tiada letih bersahutan.
Awal kisah ini dimulai dari perjumpaan yang tiada disengaja sebelumnya, tanpa diminta ataupun diinginkan...sehingga tidak bisa dipungkiri cerita inipun menuai air mata dan gelisah jiwa yang merona...Sebut saja namanya Gery (nama fiktif), anak kuliahan yang mempertaruhkan hidupnya demi menggapai cintanya terhadap Reni (nama fiktif ). Gery adalah anak yang berpikirnya sedikit liar, meski bisa dikatakan ia adalah anak yang agak pendiam, tetapi keinginannya cukup kuat terhadap apa yang menjadi keinginan, bahkan demi mencapai cintanya untuk singgah dipelaminan, ia pun harus mengulur waktu sebagai salah satu strategi mencapai keinginannya, problem hidup ia hadapi sendiri, bukan lantas persoalan ekonomi yang paling mendasar, tetapi problem adat-istiadat yang kemudian disangkut-pautkan dengan keyakinan, dari sinilah kisah itu dimulai untuk memilih, pilihan yang dilematis. 
Tanpa harus diminta, mestinya mereka harus mengerti dan memahami keinginan yang terbaik yang menjadi pilihan Gery, tetapi apa boleh buat hal tersebut justru menjadi pertentangan yang tak berbatas antara cinta dan budaya, sehingga salah satunya harus mengalah untuk menjalani pilihan hidup yang menjadi keputusan.

Dalam perjalanan cintanya, Gery pun sempat mengambil keputusan untuk meninggalkan Reni, dan akan mengubur kenangan yang sudah dibangunnya selama bertahun-tahun...Ren...kamu tahu kan bagaimana orang tuaku? kemaren aku ceritakan pada orang tua, hal ihkwal hubungan kita...dan aku dengan tegas dan jujur menceritakan situasi dan kondisi kita, bahkan aku juga mendeskripsikan kondisi keluargamu, sosokmu yang mengagumkan bagiku, juga aku ceritakan pada ortu...tapi..........Sejenak Gery menghentikan ucapannya...dan tak kuasa menahan air mata, sebelum melanjutkan perkataannya...Tapi apa Ger...timpal si Reni....Gery pun semakin terdiam dan membisu...Heningpun semakin sunyi dalam suasana haru...dengan terbata-bata Gery menenangkan diri dan akan melanjutkan perkataannya....Ren, kamu harus janji dulu padaku,....Ia emang kenapa, dan kenapa pula kamu sedih....tapiny itu lho kenapa....ada apa dengan orang tuamu...kalau orang tuaku fine-fine aja tuh...Gery, ia aku paham, orang tuamu memang fine-fine aja dan tidak ada persoalan dengan keluarga yang disini, Kamu harus kuat dan sabar ya...terus terang aku sudah tidak tahan dengan kondisiku ini Ren, aku terpaksa dan harus memaksa bahwa hubungan kita cukup sampai disini saja, sebab ortuku mengingikan aku untuk nikah dengan bagsaku sendiri, sungguh begitu kejamnya mereka, aku tidak boleh menikah dengan orang China, Madura, Apalagi yang masih keturunan jawa, ini sungguh tidak adil, aku uga ingin menjerit dengan nasib kita ini Ren.. Reni pun terdiam seribu bahasa, pelan-pelan air mata itu jatuh perlahan, nafaspun semakin keras berhembus, bagai diburu oleh hantu yang bermain-main dipikiran dan bayangan..

Sejenak heningpun kembali menguasai jiwa mereka, waktu pun berlalu begitu saja, Tiba-tiba Reni mengagetkan Gery, Ia sudah tak sadarkan diri, mendengar apa yang disampaikan oleh Gery, perihal putusnya cinta karena suatu pilihan. Gery pun bingung dengan kondisi Reni yang sudah merebahkan kepalanya di atas paha Gery dengan kondisi tak sadarkan diri..Gery segera mengambil minyak angin dan mengeluskan ke leher Reni, serta menggosok-gosokkan ke bagian keningnya...beberapa jam kemudian Reni sadar, dan air matapun berderai dengan kencang, sambil memeluk Gery,, setega itukah orang tuamu dan dirimu memperlakukan kasih sayang dan cintaku yang selama ini sudah aku luapkan semuanya hanya untukmu, bukan untuk siapa, bukan pula untuk orang taumu Ger...setega itukah engkau mengambil keputusasn sepihak saja, tanpa memikirkan kondisiku dan keluargaku yang sudah sepenuh hati menerima engkau apa adanya..Gery pun tak kuasa menahan sedih, dan air mata itu kembali jatuh kepangkuan si Reni.

Hari-hari berlalu begitu cepatnya, Gery dan Reni masih sama-sama saling merenungi mengenai persoalan tersebut, Dengan tangis yang hampir tiap hari menguras tenaga dan pikiran Reni, hingga pada perasaannya yang terdalam, Reni masih setia menunggu Gery untuk kembali kepangkuannya.

Dalam Renungan Gery yang sudah berjalan berhari-hari, akhirnya Gery memutuskan kembali ke Reni, tekadnya semakin bulat untuk mengakhiri hidup lajangnya bersama Reni, pilihan hidup yang sudah diyakini, merupakan Ketentuan Tuhan yang tidak bisa dipungkiri, meski orang tua, saudara, dan adat sekalipun masih tetap berupaya menghalangi keinginan Gery untuk menikah..
"Tak terasa berjalan diatas krikil tajam mengguyur air mata membasahi tubuh...inilah kehidupan yang pedih dan pahit... mereka hanya bisa tertawa, marah sebagai lawan dari kehidupanku.." Hati Gery pun bergejolak bagai besi yang mencair karena terbakar panasnya emosi, antara rindu, benci, sayang, sudah berbaur menjadi satu, dan Gery tidak bisa berpaling dengan apa yang sudah dilakukan, nasi sudah menjadi bubur.

Inilah kondisiku dengan bentuk kelebihan dan kekurangannya,...sekali lagi kamu mau kan menerimaku apa adanya.....Tentu Ger...apapun resiko hidup yang menjadi pilihan kita, maka kita harus menjalaninya,,aku tidak tahu juga, apakah ini semua garis hidup kita yang penuh dengan kerikil tajam, cobaan dan rintangan yang tak pernah berhenti, tetapi aku mencoba untuk sabar dan ikhlas menerima segalanya.

Sampai detik ini, aku juga masih belum tahu, apakah merekan akan menerima keputusan kita, atau justru sebaliknya, tapi yang jelas, kita harus segera menikah dan menjadikan semuanya halal bagi kita, dan yang paling penting semuanya tidak melanggar aturan agama, dan adatpun tidak bisa menggugat dan mempermasalahkan tentang keinginan kita untuk menikah.



Baca Selengkapnya ....

Bagaimana Mengatasi Hambatan Dalam Aktivitas Menulis

Posted by Unknown 0 komentar
Inspirasi, gagasan,atau ide merupakan modal awal seorang penulis dalam membuat sebuah tulisan. Intinya, sebuah tulisan akan sulit dan tidak mungkin terwujud jika tidak didahului sebuah ide.

Alfa Edison mengatakan, “Genius itu 1% inspirasi, dan 99% cucuran keringat,” dari sini semakin jelas bahwa kecerdasan atau kesanggupan berpikir itu, inspirasinya hanya 1% saja, sedangkan cucuran keringat atau kerja keras 99%. Dalam mengarang pun diperlukan kerja keras, memeras otak, atau apa yang dikatakan Edison “cucuran keringat”. Inspirasi yang 1% itulah yang dikembangkan dengan kemampuan yang ada untuk bisa berkembang sampai 100%. Dalam usaha pengembangannya, seorang pengarang memerlukan modal “ kemahiran berbahasa” Indonesia yang baik dan benar. Dalam kemahiran berbahasa inilah terdapat “seni mengarang” yang ditunjang oleh disiplin yang ketat dan berlatih.

Perangi Kebiasaan Menunda-nunda Mencurahkan Ide Kreatif

Setelah inspirasi datang, penghambat berikutnya adalah kebiasaan menunda-nunda. Seringkali penulis pemula terlalu mengandalkan ingatan untuk menyimpan ide-idenya. Padahal, kebanyakan penulis pemula seperti ini akan kecewa karena inspirasi yang bertumpuk di kepalanya mudah hilang dari ingatan, apalagi bila terlalu lama disimpan, ide akan terasa usang dan tidak akan seperti pertama kali muncul dalam pikiran. Berbeda kalau ide itu segera ditulis dalam buku catatan, maka momen saat munculnya ide tidak kehilangan maknanya.

Tidak dipungkiri bahwa sulit memulai adalah masalah yang paling banyak dikeluhkan oleh penulis. Hal ini tidak terbatas pada penulis pemula tetapi penulis profesional pun mengeluhkan masalah ini.
Baik pembuka karangan dalam artikel fiksi atau lead dalam artikel nonfiksi, keduanya mempunyai kesulitan yang sama. Kadang seorang penulis profesional menyarankan agar  “tulis apa saja yang ada dalam pikiran saat itu”. Setelah itu nanti bisa dilihat mana kalimat yang tidak layak dan harus dipangkas serta mana yang harus dipertahankan.

Memerangi Keraguan Untuk Memulai
Secara psikologis, kesulitan memulai tulisan akibat penulis dihinggapi keraguan. Keraguan memang penyakit psikologi yang paling sulit untuk dihindari. Sulit karena karakter manusia yang ingin mendapat sesuatu yang terbaik disamping rasa takut menuai kegagalan, sehingga sering berpikir dua kali bila hendak melakukan sesuatu yang ujung-ujungnya melahirkan keraguan kemudian benar-benar mengurungkan niat untuk melakukannya. Padahal menjauhi keraguan dan mengusirnya jauh lebih mudah daripada mempercayai keraguan itu. Dan ketika keraguan itu sirna, segalanya menjadi mudah.

Alangkah konyolnya mempertahankan keraguan dalam hidup Anda. Ragu-ragu memboroskan energi dan merusak kemampuan alami yang Anda miliki untuk sukses.

Sulit menjabarkan yang dimaksud disini adalah bukan sebatas kesulitan membuat kalimat pembuka tapi kesulitan menyelesaikan artikel atau tulisan tersebut sampai tuntas. Kadang ide sudah ada, tetapi penulis masih bingung apa yang mesti dilakukan dengan ide itu karena begitu “gelap” untuk menjabarkannya.

Penyebab  Kemandegan Untuk Memulai Menulis

1.    Penulis tidak menguasai masalah atau materi yang dibahas

2.    Kurangnya referensi

3.    Tidak jelas kerangka berpikirnya

4.    Belum terbiasa membuat artikel

Tema tulisan adalah hal yang sangat menentukan arah tulisan atau tujuan dari tulisan tersebut. Menentukan tema tulisan berbeda dengan menentukan judul. Menentukan tema harus jelas, padat dan singkat. 

Menentukan tema tidak cukup hanya dengan mencari jawaban atas pertanyaan “apa” (yang dimaksud dengan) tema itu, tapi perlu juga mencari jawaban atas pertanyaan “bagaimana” (pokok bahasan yang sudah ditemukan itu terjadi atau dilakukan).

Dalam menelaah tema, penulis yang bersangkutan juga harus senantiasa ingat bahwa tema yang terlalu luas jangkauannya terlalu sulit digarap. Untuk itu, tema perlu dirumuskan kembali agar cakupannya lebih sempit, tapi konkret.

Boleh jadi hal lain yang membuat Anda selalu kehilangan pokok bahasan adalah Anda tidak mengerjakan tulisan itu dengan sepenuh hati. Padahal kesungguhan hati merefleksikan keyakinan hidup seseorang dan dapat menentukan keberhasilan sesuatu yang ingin dilakukan.

Musuh Terbesar Adalah Melawan Diri Sendiri

Banyak orang mengira bila ia sudah sukses menulis, ia sudah benar-benar percaya diri. Sesungguhnya kepercayaan diri bukan diukur oleh apa yang telah diraih. Jadi, hakikat kepercayaan diri sejati tidak ada kaitannya dengan kehidupan lahiriah. Kepercayaan diri terbentuk bukan dari apa yang diperbuat, namun dari keyakinan diri, bahwa apa yang dihasilkan memang berada dalam batas-batas kemampuan dan keinginan diri.

Malas belajar merupakan faktor penghambat menulis yang melahirkan faktor penghambat lainnya. Kemampuan menulis itu lahir dari kemauan untuk terus belajar dan belajar. Keangkuhan bahwa Anda sudah bisa segalanya dan tidak membutuhkan pembimbing, sesungguhnya Anda sedang menjauhi hal penting untuk sukses. Belajar akan memberi hikmah besar untuk kemauan dan kesuksesan di masa mendatang.

Adanya kenangan buruk yang membekas dalam ingatan sering membuat orang mengeluh, frustasi dan rendah diri. Banyak orang merasa sulit meninggalkan kenangan buruk. Jalan keluar dari kebiasaan ini, kata Richard Carslomn dalam bukunya “Don’t Worry Make Money” adalah dengan menyadari bagaimana rasanya dalam situasi demikian. Kesuksesan adalah sebuah paket, dan bagian dari paket itu adalah kegagalan. Orang sukses adalah orang yang tidak pernah berpikir dirinya kalah, ketika ia terpukul jatuh, ia akan bangkit, belajar dari kesalahannya dan bergerak maju menuju inovasi yang lebih baik.

Dalam kamus sukses, sikap gigih dalam melakukan segala hal merupakan modal berharga. Keberhasilan itu diraih dengan cara tidak selalu mulus ataupun instan. Orang baru bisa percaya diri dapat sukses, bila ia telah benar-benar berusaha secara gigih.

Oleh karena itu, untuk meretas jalan sukses, coba ikuti langkah-langkah berikut :

1. Miliki cita-cita yang realistis

2. Yakin dengan apa yang dicita-citakan

3. Jangan berharap pada “kemujuran”

4. Mulai untuk merealisasikan cita-cita

5. Dalam berusaha harus mempunyai pandangan luas

6. Kuasai keadaan

Memulai Menulis Dengan Ide Cerita Yang Ringan

Feature adalah tulisan ringan. Menurut Williamson, feature adalah tulisan kreatif yang terutama dirancang untuk memberi informasi sambil menghibur tentang suatu kejadian, situasi atau aspek kehidupan seseorang.

Feature secara umum lebih mengandalkan alur, situasi atau juga proses peristiwa, maka dalam penyajiannya harus jelas dan logis. Teknik penulisan yang dapat digunakan adalah gaya menulis cerpen. Hanya bedanya, jika cerpen berisi fiksi sedangkan pada karangan khas berisi fakta-fakta yang aktual dan sesungguhnya.


*Selamat Mencoba*

Baca Selengkapnya ....

Cara Mengembangkan Ide Cerita Dalam Karya Fiksi

Posted by Unknown 0 komentar
Sebuah buku tentang “menjadi ibu rumah tangga yang baik” tentu menarik bagi ibu-ibu, sama halnya dengan buku “menjadi pria yang disukai wanita” akan direbutkan oleh remaja laki-laki yang baru mengenal cinta atau yang sudah dewasa, malah.

Pertanyaan, “Apa yang membuat anda bertahan menyelesaikan membaca sebuah karya fiksi?”. Pasti akan ditemukan beragam jawaban, sesuai dengan apa yang dicari pembaca atas tulisan tersebut. Sekarang kita bedakan, contoh yang saya buat di atas bukan karya fiksi. Sehingga orang tidak perlu repot-repot “pakai perasaan”, mereka hanya menginginkan pengetahuan dari buku itu. Nah, kalau fiksi lain lagi ceritanya. Saat membaca fiksi orang tidak sekadar mencari informasi dari cerita saja, tapi juga keindahan penyajian cerita itu(jangan lupa bahwa semua orang bisa menulis fiksi), dan banyak pilihan bacaan fiksi membuatnya menjadi lebih selektif. Secara umum orang menilai fiksi dari ceritanya, apakah menarik, menginspirasi atau unik. Tapi, secara keseluruhan fiksi bukan hanya tentang cerita, tapi tentang keterampilan menyajikan cerita, semisal: tata bahasa, gaya bahasa, alur, pemilihan diksi, dll.

Bagi saya, hal-hal menyangkut keterampilan menulis adalah sesuatu yang serius. Saya tidak jarang melewatkan membaca sebuah karya fiksi yang gagal menarik perhatian sejak awal-awal kalimat, kecuali memang saya ingin mengoreksinya. Jadi, beberapa hal ini akan membatalkan niat membaca saya:
 
Bahasa yang rumit.

Sepulang dari taman jiwanya, Ratna memeluk puing-puing kesedihan yang mengerontang di bilik hatinya. Anaknya serupa penantian yang tak berujung di sebalik danau putik bunga. Kalaupun orang tua di seberang jalan menjajakan potongan iba, tak ada dampak untuknya. Raganya telah tertelan gelap malam. Dst.

Pernahkah anda membaca fiksi seperti ini? Sering. (Keren ya? Sebenarnya saya suka) Karena saya tak mudah menangkap maksudnya, maka saya lewatkan saja kalimat itu. Langsung ke paragraf selanjutnya. Parahnya, ada sebuah karya yang bahasanya seperti itu sampai ke akhir cerita. Boleh anda mengeksplorasi bahasa demi penyampaian cerita yang menurut anda sangat intim. Tapi, apa anda tak peduli dengan pembaca yang kebingungan?. Fiksi tak selalu harus di puitis-puitiskan. Adalah teman saya penulis cerpen itu. Penasaran saya tanya padanya, apa maksudnya? Dia hanya tersenyum. Saya juga tersenyum. Senyuman itu adalah jawaban yang jelas. Kamu sangat berbakat sebagai penyair, kata saya, menanggapi bahasa senyum-nya.

Bedakanlah antara cerpen dan puisi. Puisi berisi barisan-barisan kata yang bermakna, jelas tak sepanjang cerpen. Jadi, dibutuhkan pemilihan kata yang pas dan (kalau perlu) sangat khusus supaya pesan yang diinginkan mengena (bukan hanya sebagai teks tapi juga sebagai wakil perasaan yang dalam) maka tak masalah jika kadang bahasanya agak rumit. Cerpen tidak begitu, ceritalah yang lebih diutamakan, dengan rentang tulisan yang cukup.  Maka, tak perlu pelit-pelit berdeskripsi, :). Bandingkan dengan novel, tentu lebih luas lagi eksplorasi deskriptifnya.

Sepulang dari taman di samping danau itu, Ratna disengat kesedihan dari masa lalunya yang masih setia mengisi benak. Anaknya pernah hilang di sana. Memang, lelaki di seberang jalan itu selalu mencoba menghiburnya. Katanya, akan mencoba mencari anaknya yang hilang. Ratna hanya bisa tersenyum datar. Bagaimana mungkin anaknya kembali: ia sering bermimpi anaknya ditelan kegelapan. (Misalkan begitu)
*Bukankah menjadi agak jelas ya? Jadi pembaca bukan membaca karena penasaran dengan bahasa nyastra anda (padahal nggak tahu maksudnya apa). Tapi, tertarik pada cerita dan bahasa penceritaan yang mudah dipahami.

Bagaimana pembaca akan mendapatkan pesan tulisan anda, jika ceritanya pun sulit dimengerti dikarenakan pemilihan bahasa yang asal-tembak? (atau yang lebih parah… tersiksa karena ingin membacanya, hehe. lebay.com)
 
Cerita yang tidak logis.

Ini adalah kekeliruan yang sering terjadi, masalahnya hanya satu: penulis tidak menyunting karyanya sebelum ia bagi ke pembaca

Ada kesalahpahaman perihal kelogisan ini. Yang saya maksud kelogisan di sini adalah alur cerita. Bukan tema cerita. Jadi, membuat fiksi tentang lelaki yang bisa mencopot kepalanya untuk ia ganti dengan kepala orang lain, bukan tak logis. Berarti memang genrenya seperti itu.

Kalau misalnya, lelaki itu bosan dengan kepalanya sendiri lalu mencari kepala orang yang lebih rupawan. Tapi, setelah mengganti kepalanya tersebut, lelaki ini diserang berbagai macam masalah lain. Ia tersiksa dan mati oleh ketakutan yang dibawa kepala barunya ini. Begitu saja! Ini baru tak logis.

Kan tidak dijelaskan prosesnya atau syarat-syarat cara mengganti kepala? Logikanya, ya cari saja kepala baru? Bagi pembaca, ketakutan itu tak beralasan. Inilah yang saya bilang, “tak logis”.

Ada pula, perihal deskripsi tentang tokoh yang tak relevan dengan cerita itu sendiri. Memang, paling mudah untuk menjelaskan watak-obsesif tokoh adalah menjelaskan secara langsung. “Ayahnya adalah pria yang sabar” atau “Roni sangat mencintai kekasihnya”. Tapi, kadang tak sesuai dengan cerita. Jika di cerita itu ada peristiwa Sang Ayah meneriaki pembantu yang telat membuat kopi, tentu saja ia bukan penyabar. Kalau menjemput pacarnya saja Roni banyak alasan, apa itu namanaya “sangat mencintai”.

Dalam dialog pun, harus berhati-hati. Jangan sampai-karena ingin berpuitis-seorang anak TK bisa mengucapkan bahasa setingkat sastrawan besar, atau mengucapkan kata yang tak wajar diketahuinya, seperti: transparan, sanguinis, diputarbalikkan, berpeluh oleh rindu, dll. Kecuali, jika anda mampu menjelaskan latar belakang anak itu dengan baik, sehingga menjadi wajar ia paham kata-kata “dewasa” itu (itu pun masih akan menuai ragu).

Ketidaklogisan itu membuat cerita anda menjadi cacat. Maka, sebelum kecacatan itu terendus pembaca telitilah lagi membaca karya anda itu.
 
Penggunaan bahasa dan tanda baca yang tidak tepat

Saya terpikir seperti ini, apa indahnya hidup tanpa aturan (agama misalnya)? Berantakanlah peradaban. Apa indahnya karya sastra jika tak ada aturan berbahasa, bahkan pengajian bahasa inilah yang paling menarik dalam sastra.

Misalkan: Penggunaan huruf kapital, peletakkan titik-koma yang tepat, atau diksi yang tepat guna.
Rasanya tak perlu menjelaskan hal ini. Tak tepat konteksnya (karena saya membahas tentang kepekaan atau akan saya bahas di lain kesempatan), dan pengetahuan ini bisa anda temukan di situs-situs bahasa, banyak sekali, jika anda mau.
 
Pesan yang ingin disampaikan

Yang ini adalah konsekuensi dari ketiga poin di atas. Ya, saya hanya dapat menerima pesan cerita jika ia telah memenuhi paling tidak, dua poin pertama. (Karena kecacatan pada dua poin pertama tak jarang membatalkan saya membaca)

(Saya membayangkan banyak hal lain yang bisa mempengaruhi penilaian pembaca. Karena memang sangat ngesok jika ada yang mengatakan bahwa mereka bisa mengklasifikasikan perihal “penilaian pembaca” ini dengan pas. Maka saya pilih berdasarkan subjektivitas saya saja)

Btw, mulai sekarang, pekalah terhadap perasaan pembaca. Mereka adalah individu yang memiliki standar penilaian. Apakah bahasa yang anda gunakan akan menyusahkan pembaca dalam menerima maksud anda? Apakah cerita di dalamnya cukup logis atau penyampaiannya sudah pas untuk pembaca? Apakah bahasanya sudah benar? Terakhir, apakah bermanfaat untuk pembaca?

Hm, saran saya, untuk yang baru menggiati fiksi, berfokuslah dulu pada dua poin pertama. Akan sangat baik jika anda mempelajari poin ketiga, atau kalaupun sulit, cobalah mencicil pengetahuan tentang berbahasa, paling tidak bisa membedakan yang mana “di” sebagai preposisi dan yang mana sebagai imbuhan. Dan poin keempat biasanya tak dipusingkan bagi penulis, setiap penulis sadar betul apa yang ingin ia pesankan kepada pembaca. Tugas anda hanyalah memastikan apakah pesan itu sampai setelah mereka selesai membaca tulisan anda. Cara paling mudah, posisikan diri anda sebagai pembaca, lalu nilai karya anda secara objektif.

Kenapa hal ini penting? Karena takdir seorang penulis fiksi-genre apapun itu- ada di tangan pembaca. Kalau bahasanya sulit dipahami dan logika ceritanya ngawur, tentu saja memalaskan pembaca untuk membacanya. Kalau sudah masuk perihal kebahasaan, EyD, dan kalimat Efektif, makin rumit lagi. Apalagi jika pembaca itu adalah seorang redaktur sastra media, karya terbaik anda akan dibantai jika tak memenuhi standar bahasa (ya, sedikit-sedikit mungkin tak apa, redaktur media kadang juga punya toleransi jika memang kisah anda itu menarik; oleh karena itu, dua poin pertama di atas penting untuk dikaji)

Saya sendiri pernah dibantai habis oleh teman penulis saya. Tidak bisa dikatakan betapa saya marah dan kesal, saya pun tak henti menggerutuinya setelah itu. Tapi, akhirnya saya sadar, justru ialah orang yang paling peduli dengan kualitas kepenulisan saya. Saya malah bersyukur bisa mengenalnya.

Penulis   : Berry Budiman
editor    : faisal
Sumber : Kompasiana

Baca Selengkapnya ....

Pusaran Energi Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Realita

Posted by Unknown Tuesday, 21 May 2013 0 komentar
Ditengah keramaian dan kebisingan, lalu kutulis kata bahwa cinta dan fakta adalah irama yang saling bersahutan untuk melengkapi kekurangan, karena jejak langkah dalam buaian tengadah dan air mata adalah simbol-simbol keinginan yang berlanjut dalam jalan kesunyian.

Hening pun menyelam dipusaran energi keinginan yang terus bergelora dalam titah Tuhan terhadap semesta, bukankah sesama makhluk kita harus saling menyayangi dengan akal dan pikiran sehat, bukan saling menghina, menggunjing, dan mematahkan semangat menuju Rabbnya. Bukankah burung-burung dan kawanan makhluk lain juga senantiasa bertasbih dengan bahasa yang mereka bisa, sehingga kita pun tak pernah mampu untuk menangkap kembali isyarat-isyarat alam yang selalu memberitahukan bahwa Tuhan tak perlu untuk diperdebatkan.

Waktu terus berputar, mengelilingi angka-angka yang dinamis, aku akan selalu ada dalam tiap-tiap rangkaian kata yang menjadi bait. kutuliskan atas dasar cinta meski fakta-fakta kekurangan dan kesederhanaan adalah bagian yang tak terpisahkan.

Malam kian larut..
sunyi kembali lagi...
Desiran angin berhembus dari lubang jendela..
Menyapa dengan sejuknya..
Hati pun berkomat-kamit...
Membaca mantra penyejuk jiwa 
Suara lirih bergumam...Hendak kemana jiwa ini akan berlabuh...
Penuh dengan teka-teki..
Masih sangat misteri...
Akan kah semua keinginan itu akan terjadi..Hanya dengan Meletakkan keyakinan dalam hati secara mendalam, semuanya pasti akan sampai pada waktu dan tujuannya dengan tepat.

Gelombang ini sungguh pasang dan surut, ketika surut batu-batu terjal itu sangat tampak dan keliatan, begitu pula sebaliknya, ketika pasang datang menghampiri, gelombang pun tak kuasa kuhindari..Inilah jalan cinta ini, penuh tanya, tanpa jawaban kepastian. Akhirnya sabar mencari Ridho-Nya.

Meski jiwa cemas dan penuh harap, tidak lantas menyurutkan langkah menuju impian yang kuasa...derai air mata sebagai simbol kekuatan atas keinginan yang menggelombang, seperti burung pagi yang lincah, melompat-lompat dari satu dahan kedahan yang lain, begitulah jiwa ini mengembara tiada henti, memenuhi panggilan jiwa untuk saling bahagia.

Masih terlukis jelas, pada jendela yang berkaca, semakin kupandang, semakin pula tertunduk...berkaca-kaca dan selalu menjadi kisah yang tak akan pernah berhenti untuk kuungkap dalam bait-bait kata yang terhimpun, Meski kita berada dalam pusaran energi cinta yang tersembunyi dijalan sunyi.


Baca Selengkapnya ....

Tidak Mudah Menjadi Seorang Penulis Besar

Posted by Unknown Monday, 20 May 2013 0 komentar
Menjadi seorang penulis itu memang tidak semudah membalikkan tangan, begitu pula dengan pemula yang masih jalannya tertatih-tatih dengan kondisi memprihatinkan, kekurangan, serta keterbatasan yang hal itu banyak mengurai air mata dan pikiran, tetapi hal ini kembali pada pilihan-pilihan hidup yang menjadi salah satu tantangan untuk selalu eksis dengan apa yang sudah digelutinya. semua pasti akan sampai pada puncaknya.

Salah satu contoh yang bisa kita amati bersama, seorang penulis yang hidupnya juga terlunta-lunta, yaitu J.K. Rowling, siapa yang tidak mengenal dengan pnulis yang satu ini, yang karyanya cukup bombastis, dan mampu menghipnotis jutaan orang diseluruh dunia, apalagi novelnya tentang Harry Potter dianggkat oleh Warner Bross.

Rowling mendapatkan puncak karir nya setelah menghasilkan 7 seri Harry Potter yang ia tulis sejak 1997 sampai 2007. Novel anak-anak yang mengisahkan dunia sihir berlatar Inggris itu, tercatat sebagai sebuah novel dengan penjualan jutaancopy di seluruh dunia. Tercatat Harry Potter terjual lebih dari 450 Juta eksemplar di seluruh dunia, dan diterjemahkan ke 73 Bahasa.  

Ketika novel itu diangkat menjadi film oleh Warner Bros, popularitas Rowling telah mencapai puncaknya. Apa yang bisa melebihi karir seorang penulis, yang karyanya diangkat menjadi sebuah film blockbuster di seluruh dunia. Mungkin saja jutaan penonton Harry Potter, sebenarnya tidak pernah benar benar membaca novelnya. Mungkin saja jutaan anak muda yang antre ketika film Harry Potter sekuel terakhir diputar, bahkan tidak mengenal J.K.Rowling sebagai penulis novel nya. 

Tapi tak apalah, karena toh karya Rowling itu jadi bisa dinikmati oleh lebih banyak orang, lebih dari jumlah pembacanya sejak awal. Ia telah mendapatkan klimaks dalam perjalanan karirnya, dan tentunya mendapatkan kekayaan berlimpah dari semua itu. 

Tahun 2012 inilah bagian terbaiknya, Rowling mengumumkan bahwa ia akan merilis novel yang sama sekali berbeda dari image produk sebelumnya. Ia dikenal sebagai penulis Harry Potter, dan dipuja oleh anak-anak remaja tanggung di seluruh dunia. Kali ini ia akan merilis novel drama dewasa, dan menanggalkan image penulis cerita fantasi anak-anak.
Apa yang terjadi? Bagaimana mungkin seorang penulis kisah dunia sihir, yang telah melekat di hati jutaan 
pembacanya selama lebih dari satu dekade sejak pertama diterbitkan, kini akan menanggalkan jubah kebesarannya? Rowling akan mengubah positioning-nya, mengubah citra diri dan produknya, menjadi penulis drama untuk pembaca dewasa. Dalam kasus ini, inilah salah satu contoh aktivitas re-brands, yang berarti seseorang atau sebuah produk mengubah sama sekali citra dari yang telah dikenal masyarakat sebelumnya.

J.K. Rowling kembali menekuni sesuatu yang berbeda yang mungkin jauh lebih baru lagi, atau masih belum dikenal oelh pembacanya, barangkali inilah yang menarik menjadi seorangg penulis yang mampu menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya.

Baca Selengkapnya ....

Kategory

Flag Counter

Followers