Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Rinduku Pada Mak: Maafkan Anakmu

Posted by Unknown Saturday, 15 June 2013 1 komentar
Aku mencoba untuk merenungkan kembali berbagai persoalan hidup yang tak pernah lelah melilit jiwa ini, entah mengapa rasa dalam dada ini seakan berhenti berdetak. aku juga masih belum tahu mengapa harus seperti ini, apakah ini ujian atau hukuman dari Tuhan, atau memang Tuhan sengaja sedang menguji ketabahan dan keikhlasan yang sedang kujalani saat ini.

Mak aku tahu bahwa anakmu ini tak mampu mengusap air mata yang meleleh dan menetes tanpa mampu aku usap dengan tanganku, tapi aku sangat ingin untuk membuatmu tersenyum...ya membuatmu tersenyum, hingga senyum itu tersungging seperti rembulan purnama yang bersinar dimalam hari.

Celoteh malam ini hanyalah ingin menghibur anakmu, meski aku tahu bahwa mak tak perlu tahu dengan kondisiku hari ini, biarlah semua derita ini aku jalani sendiri, dengan tangisku yang tak bisa aku bendung dengan hiburan malam..mak semua aku yakini sebagai ujian dari Tuhan. Setiap saat, setiap detik, setiap jam, setiap hari, setiap minggu, bahkan seluruh situasi dan kondisi seringkali menghianatiku, hingga anakmu ini seperti tertindas dan terperangkap dalam buih yang sangat sulit untuk aku ungkapkan dengan kata-kata, karena semuanya hanya mampu aku rasakan sendiri sakitnya.

Meski hinggap pada dahan yang rapuh, kemudian terjatuh dalam gubangan yang penuh dengan ketidakpastian, namun semuanya harus bangkit meski langkah ini tertatih dan penuh dengan kerikil yang tajam, aku terus berjalan, walaupun cucuran air mata mengiringi langkah yang goyah, namun jiwaku begitu sangat yakin, bahwa ujian ini pasti akan terlewati, hingga tujuan ini akan sampai pada pelabuhannya.

Oh...Tuhanku hanya engkau yang maha tahu diatas segalanya, Jika semua pilihan ini adalah jalan menuju keridhoanmu, maka semuanya akan aku jalani dengan tabah dan ikhlas, tak ada gading yang tak retak, begitu pula dengan perjalanan ini, bercak-bercak darah inipun tak luput tertusuk kerikil...begitu sakit dan perih aku rasakan.

Mak aku begitu enggan untuk pulang, karena keberhasilan itu belum aku capai, aku berperang melawan diriku sendiri, hendak mengurangi hawa nafsu dalam jiwa, entah kenapa begitu berat dan godaan begitu kuat, sanggupkah diriku? aku masih belum tahu mak, hanya Tuhan yang maha tau diatas segalanya.

Salamku pada angin yang mendesir, aku meluapkan rinduku dalam jiwa..
Gelap ini kuyakini akan menuju terang..
Walau entah dimana kudapatkan..
Salam rinduku pada emak..
Maafkan anakmu..
Masih belum membahagiakanmu...
Karena buktinya aku masih belum apa-apa..
Mak anakmu ini masih semangat..
Dan tak ingin terucap kata menyerah, walau itu sepatah..

Mak aku selalu berdoa untukmu dan akan selalu merindukanmu, dimanapun engkau berada. salam dari anakmu yang papa. aku selalu memohon pada Tuhan : Jangan Biarkan Aku Tersesat dalam gelap yang panjang.




Baca Selengkapnya ....

Tuhan : Jangan Biarkan Aku Tenggelam Dalam Kesesatan..

Posted by Unknown Friday, 24 May 2013 0 komentar
Bila saja waktu bisa disamakan dan disejajarkan, mungkin saja aku ingin mengulang kembali pelajaran yang telah lama kulupakan, mengingat kembali, mengulang, memahami, dan kemudian bertindak dalam kehidupan yang sebenarnya, bukan lantas menenggelamkan diri dalam kebingungan dan ketidakpuasan terhadap apa yang telah dicapai, apapun itu sangat tidak pantas untuk disesali kembali, kecuali hanya jadi pembelajaran untuk berbenah diri.

Siapapun itu orangnya, ketika dalam situasi dan kondisi yang sangat terdesak, bahkan keterdesakan tersebut bisa dikatakan diujung puncak, maka ia akan menyebut sang pemiliki kekuatan yang maha dahsyat meski dengan kebingungan dan ketidaktahuan yang dimiliki. Ada yang menyebut oh..Allah, ada Tuhan, ada oh My God, ada yahweh, ada sang hyang widi, dan tentu pula ada Tuhan-tuhan baru yang sengaja diciptakan untuk memecah gelombang keyakinan.

Tuhan...Tuhan jangan tinggalkan aku sendiri, yang terpojok pada ujung yang gelap, butuh waktu belajar untuk memahami dan mengerti, serta mencari apa yang belum diketahui. akankah engkau meninggalkanku sendiri? dalam kesesatan yang seringkali tidak aku pahami dan kadang tidak disengaja, tuntunlah aku pada jalanmu yang benar menurutmu, bukan menurutku. Aku bergumam dalam hati, mencari jawaban yang tercecer tanpa kepastian.

Teka-teki hidup pun mulai menggelayut dalam pikiran dan bayangan yang kadangkala hadir tanpa aku undang, memandang wajahmu, terasa menyejukkan dan mendamaikan, apakah Tuhan telah menciptakanmu untukku, atau hanya sebatas ilusi dalam kerangka koneksi sosial, entahlah aku juga tidak tahu, sampai kapan keadaan ini akan melingkar yang terus menjadi pusaran dan semakin membesar saja.dimana aku harus mencarinya, Apakah kuharus mencari-tuhan-di-lorong-gelap, entahlah!

Berjalan pada telaga sunyi, sendiri dan menyendiri..merenungi dan melihat kembali pada jiwa yang terdalam, bahwa keinginan untuk mengungkap misteri kehidupan ini merupakan catatan pokok untuk mendapatkan jawaban langsung dari Tuhan seru sekalian alam.

Tidak mengapa engkau memusuhi sekaligus membenci secara bersamaan, meski beribu maaf tetap terkunci...biarlah Tuhan yang akan menilai, karena Dia-lah tempat satu-satunya bergantung dan memohon, dan membiarkan sang waktu berjalan seperti apa adanya.

Aku Mohon pada-Mu Tuhan...Sebesar apapun ujian dan cobaan itu, maka sesuaikanlah dengan kapasitas yang kumiliki, segalanya di akhir sandiwara akan berpulang kepangkuan-Mu.

http://smartbookpenyair.blogspot.com/2013/05/mencari-tuhan-dilorong-gelap-ii.html

http://smartbookpenyair.blogspot.com/2013/05/mencari-tuhan-dilorong-gelap-iii.html

http://smartbookpenyair.blogspot.com/2013/05/para-pelayan-tuhan.html



Baca Selengkapnya ....

Pusaran Cinta Untuk Memilih!!

Posted by Unknown Wednesday, 22 May 2013 0 komentar
Mentari yang tertutup awan hitam menjadikan suasana hati semakin tidak karuan, meski hidup  selalu diiringi dengan senyuman, namun goresan-goresan luka dalam hati tidak bisa kita singkirkan begitu saja, sebab cinta, air mata, dan canda tawa sebagai simbol kebahagiaan adalah pertautan yang tiada letih bersahutan.
Awal kisah ini dimulai dari perjumpaan yang tiada disengaja sebelumnya, tanpa diminta ataupun diinginkan...sehingga tidak bisa dipungkiri cerita inipun menuai air mata dan gelisah jiwa yang merona...Sebut saja namanya Gery (nama fiktif), anak kuliahan yang mempertaruhkan hidupnya demi menggapai cintanya terhadap Reni (nama fiktif ). Gery adalah anak yang berpikirnya sedikit liar, meski bisa dikatakan ia adalah anak yang agak pendiam, tetapi keinginannya cukup kuat terhadap apa yang menjadi keinginan, bahkan demi mencapai cintanya untuk singgah dipelaminan, ia pun harus mengulur waktu sebagai salah satu strategi mencapai keinginannya, problem hidup ia hadapi sendiri, bukan lantas persoalan ekonomi yang paling mendasar, tetapi problem adat-istiadat yang kemudian disangkut-pautkan dengan keyakinan, dari sinilah kisah itu dimulai untuk memilih, pilihan yang dilematis. 
Tanpa harus diminta, mestinya mereka harus mengerti dan memahami keinginan yang terbaik yang menjadi pilihan Gery, tetapi apa boleh buat hal tersebut justru menjadi pertentangan yang tak berbatas antara cinta dan budaya, sehingga salah satunya harus mengalah untuk menjalani pilihan hidup yang menjadi keputusan.

Dalam perjalanan cintanya, Gery pun sempat mengambil keputusan untuk meninggalkan Reni, dan akan mengubur kenangan yang sudah dibangunnya selama bertahun-tahun...Ren...kamu tahu kan bagaimana orang tuaku? kemaren aku ceritakan pada orang tua, hal ihkwal hubungan kita...dan aku dengan tegas dan jujur menceritakan situasi dan kondisi kita, bahkan aku juga mendeskripsikan kondisi keluargamu, sosokmu yang mengagumkan bagiku, juga aku ceritakan pada ortu...tapi..........Sejenak Gery menghentikan ucapannya...dan tak kuasa menahan air mata, sebelum melanjutkan perkataannya...Tapi apa Ger...timpal si Reni....Gery pun semakin terdiam dan membisu...Heningpun semakin sunyi dalam suasana haru...dengan terbata-bata Gery menenangkan diri dan akan melanjutkan perkataannya....Ren, kamu harus janji dulu padaku,....Ia emang kenapa, dan kenapa pula kamu sedih....tapiny itu lho kenapa....ada apa dengan orang tuamu...kalau orang tuaku fine-fine aja tuh...Gery, ia aku paham, orang tuamu memang fine-fine aja dan tidak ada persoalan dengan keluarga yang disini, Kamu harus kuat dan sabar ya...terus terang aku sudah tidak tahan dengan kondisiku ini Ren, aku terpaksa dan harus memaksa bahwa hubungan kita cukup sampai disini saja, sebab ortuku mengingikan aku untuk nikah dengan bagsaku sendiri, sungguh begitu kejamnya mereka, aku tidak boleh menikah dengan orang China, Madura, Apalagi yang masih keturunan jawa, ini sungguh tidak adil, aku uga ingin menjerit dengan nasib kita ini Ren.. Reni pun terdiam seribu bahasa, pelan-pelan air mata itu jatuh perlahan, nafaspun semakin keras berhembus, bagai diburu oleh hantu yang bermain-main dipikiran dan bayangan..

Sejenak heningpun kembali menguasai jiwa mereka, waktu pun berlalu begitu saja, Tiba-tiba Reni mengagetkan Gery, Ia sudah tak sadarkan diri, mendengar apa yang disampaikan oleh Gery, perihal putusnya cinta karena suatu pilihan. Gery pun bingung dengan kondisi Reni yang sudah merebahkan kepalanya di atas paha Gery dengan kondisi tak sadarkan diri..Gery segera mengambil minyak angin dan mengeluskan ke leher Reni, serta menggosok-gosokkan ke bagian keningnya...beberapa jam kemudian Reni sadar, dan air matapun berderai dengan kencang, sambil memeluk Gery,, setega itukah orang tuamu dan dirimu memperlakukan kasih sayang dan cintaku yang selama ini sudah aku luapkan semuanya hanya untukmu, bukan untuk siapa, bukan pula untuk orang taumu Ger...setega itukah engkau mengambil keputusasn sepihak saja, tanpa memikirkan kondisiku dan keluargaku yang sudah sepenuh hati menerima engkau apa adanya..Gery pun tak kuasa menahan sedih, dan air mata itu kembali jatuh kepangkuan si Reni.

Hari-hari berlalu begitu cepatnya, Gery dan Reni masih sama-sama saling merenungi mengenai persoalan tersebut, Dengan tangis yang hampir tiap hari menguras tenaga dan pikiran Reni, hingga pada perasaannya yang terdalam, Reni masih setia menunggu Gery untuk kembali kepangkuannya.

Dalam Renungan Gery yang sudah berjalan berhari-hari, akhirnya Gery memutuskan kembali ke Reni, tekadnya semakin bulat untuk mengakhiri hidup lajangnya bersama Reni, pilihan hidup yang sudah diyakini, merupakan Ketentuan Tuhan yang tidak bisa dipungkiri, meski orang tua, saudara, dan adat sekalipun masih tetap berupaya menghalangi keinginan Gery untuk menikah..
"Tak terasa berjalan diatas krikil tajam mengguyur air mata membasahi tubuh...inilah kehidupan yang pedih dan pahit... mereka hanya bisa tertawa, marah sebagai lawan dari kehidupanku.." Hati Gery pun bergejolak bagai besi yang mencair karena terbakar panasnya emosi, antara rindu, benci, sayang, sudah berbaur menjadi satu, dan Gery tidak bisa berpaling dengan apa yang sudah dilakukan, nasi sudah menjadi bubur.

Inilah kondisiku dengan bentuk kelebihan dan kekurangannya,...sekali lagi kamu mau kan menerimaku apa adanya.....Tentu Ger...apapun resiko hidup yang menjadi pilihan kita, maka kita harus menjalaninya,,aku tidak tahu juga, apakah ini semua garis hidup kita yang penuh dengan kerikil tajam, cobaan dan rintangan yang tak pernah berhenti, tetapi aku mencoba untuk sabar dan ikhlas menerima segalanya.

Sampai detik ini, aku juga masih belum tahu, apakah merekan akan menerima keputusan kita, atau justru sebaliknya, tapi yang jelas, kita harus segera menikah dan menjadikan semuanya halal bagi kita, dan yang paling penting semuanya tidak melanggar aturan agama, dan adatpun tidak bisa menggugat dan mempermasalahkan tentang keinginan kita untuk menikah.



Baca Selengkapnya ....

Pusaran Energi Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Realita

Posted by Unknown Tuesday, 21 May 2013 0 komentar
Ditengah keramaian dan kebisingan, lalu kutulis kata bahwa cinta dan fakta adalah irama yang saling bersahutan untuk melengkapi kekurangan, karena jejak langkah dalam buaian tengadah dan air mata adalah simbol-simbol keinginan yang berlanjut dalam jalan kesunyian.

Hening pun menyelam dipusaran energi keinginan yang terus bergelora dalam titah Tuhan terhadap semesta, bukankah sesama makhluk kita harus saling menyayangi dengan akal dan pikiran sehat, bukan saling menghina, menggunjing, dan mematahkan semangat menuju Rabbnya. Bukankah burung-burung dan kawanan makhluk lain juga senantiasa bertasbih dengan bahasa yang mereka bisa, sehingga kita pun tak pernah mampu untuk menangkap kembali isyarat-isyarat alam yang selalu memberitahukan bahwa Tuhan tak perlu untuk diperdebatkan.

Waktu terus berputar, mengelilingi angka-angka yang dinamis, aku akan selalu ada dalam tiap-tiap rangkaian kata yang menjadi bait. kutuliskan atas dasar cinta meski fakta-fakta kekurangan dan kesederhanaan adalah bagian yang tak terpisahkan.

Malam kian larut..
sunyi kembali lagi...
Desiran angin berhembus dari lubang jendela..
Menyapa dengan sejuknya..
Hati pun berkomat-kamit...
Membaca mantra penyejuk jiwa 
Suara lirih bergumam...Hendak kemana jiwa ini akan berlabuh...
Penuh dengan teka-teki..
Masih sangat misteri...
Akan kah semua keinginan itu akan terjadi..Hanya dengan Meletakkan keyakinan dalam hati secara mendalam, semuanya pasti akan sampai pada waktu dan tujuannya dengan tepat.

Gelombang ini sungguh pasang dan surut, ketika surut batu-batu terjal itu sangat tampak dan keliatan, begitu pula sebaliknya, ketika pasang datang menghampiri, gelombang pun tak kuasa kuhindari..Inilah jalan cinta ini, penuh tanya, tanpa jawaban kepastian. Akhirnya sabar mencari Ridho-Nya.

Meski jiwa cemas dan penuh harap, tidak lantas menyurutkan langkah menuju impian yang kuasa...derai air mata sebagai simbol kekuatan atas keinginan yang menggelombang, seperti burung pagi yang lincah, melompat-lompat dari satu dahan kedahan yang lain, begitulah jiwa ini mengembara tiada henti, memenuhi panggilan jiwa untuk saling bahagia.

Masih terlukis jelas, pada jendela yang berkaca, semakin kupandang, semakin pula tertunduk...berkaca-kaca dan selalu menjadi kisah yang tak akan pernah berhenti untuk kuungkap dalam bait-bait kata yang terhimpun, Meski kita berada dalam pusaran energi cinta yang tersembunyi dijalan sunyi.


Baca Selengkapnya ....

kami bukan budak tuan!!!

Posted by Unknown Monday, 20 May 2013 0 komentar
Kisah yang tak boleh terulang kembali...
Kisah yang membuat nurani yang mendengar dan melihatnya terkoyak...
Demi uang, jabatan, dan harta benda, kau rela memperbudak saudaramu sendieri yang setanah air dan sebangsa..

Peristiwa yang memilukan, ditengah-tengah sulitnya perekonomian, masih ada proses pemanfaatan, sekaligus pengebirian,. seperti hewan yang hendak akan dibawa kepasar..

Bangsaku menagis dan menjerit,,rakyat kint tidak menentu nasibnya,,,dimana sulitnya mencari pekerjaan adalah salah satu faktor terjadinya perilaku yang menyimbang atas besarnya ambisi untuk menghasilkan uang yang melimpah ruah, meskipun harus mengorbankan anak-anak bangsa yang masih polos untuk mencari kerja demi sesuap nasi yang penuh dengan harapan....

Tuan kami bukan budak,,,kata retno (nama samaran), mengapa tuan begitu kejam dengan memeras keringat kami dan menjadikan kami sebagai mesin pencari uang...Tuan kami bukan robot, kata-katanya lirih dan lunglai, karena sudah setengah hari tidak makan...

Hey....kamu masih muda dan berotot...inilah dunia kerja yang perlu kamu pahami....kalau perusahaan kami maju, negeri ini juga akan maju...kamu kan butuh uang dan pekerjaan,,,dan kami butuh penghasilah yang melimpah dengaan modal sedikit dan menghasilkan uang banyak....aku ini bos-mu, ingat itu...ayo kerja,...kerja..kerja...

Tuan, ini bukan sekdar pekerjaan...tapi ini perbudakan tuan...apa tuan tidak punya hati nurani mempekerjakan kami tanpa belas kasihan, sanggah Retno...

heh..anak muda, kamu mau mengurui kami....ayo cepat kerja,,,apa kamu agak mau makan hari ini...sekali lagi masih membantah, tak masukkan kamu kedalam tong, dan akan kami buang kelautan, biar ikan-ikan itu kenyang...mau kamu...

Maaf-maaf tuan...tanpa pikir panjang, Retno kembali kelapangan, dengan sedikit tenaga ia ayunkan kembali pasir-pasir yang berserakan, untuk dijual...

Beberapa hari kemudian...para pemuda dan pekerja yang diperbudak lainnya,,,berpikir hendak melarikan diri, karena sudah tidak tahan dengan kesewenang-wenangan dan perbudakan itu...ssebut saja namanya Lily dan Retno...tepat jam setengah tiga malam, mereka celingak-celinguk hendak melarikan diri...merasa sudah aman dan tak ada penjaga, mereka segera menyelinap dan naik keatas pagar, yang sudah dipersiapkan dari tadi siang...alhasil mereka bisa lega melarikan diri dan selamat dari intaian para dajjal-dajjal yang memperbudak mereka setiap hari..

Dua pemuda ittupun melaporkan peristiwa tersebut kepada pihak yang berwajib, juga melaporkan kejadian itu pada pihak yang berwenang,,,dari situlah peristiwa itu terungkap, dan para pelakunya ditangkap...sungguh teramat kejam perbudakan itu,,dan merampasd jiwa-jiwa yang polos hanya mencari sesuap harapan ditengah-tengah sulitnya ekonomi.

Baca Selengkapnya ....

Cerita Rakyat Diwarung Kopi

Posted by Unknown 0 komentar
Kala mentari tersenyum lebar, hembusan sayup angin menyejukkan jiwa-jiwa yang gersang, tak lupa pula burung-burung itu berkicau dengan indahnya, menmbah suasana pagi dengan cinta dan kebahagian. hari ini tentang cerita rakyat yang memikul beban cukup berat, tetapi mereka lepaskan begitu saja beban itu hingga menancap pada tawa dan suka yang cukup riang.

Suasana pagi ini laksana bumi surgawi yang keceriaannya begitu elok nan indah, meski kesulitan-kesulitan terbebani dalam pundak yang kering kerontang, tetapi senyum mereka itu menghiasi lubuk hati,..betapa semangatnya hidup mereka, meski keterbatasan-keterbatasan menyelimuti aktivitas mereka yang memiliki kemampuan hanya secuil.

Cerita pagi ini, merupakan cerita rakyat yang lepas begitu saja diwarung kopi..tanpa sengaja ada tiga orang kakek yang duduk sambil tertawa terbahak-bahak dan sesekali melepaskan guyonannya yang paling ampuh.

Kakek Suroso, berprofesi sebagai tukang becak, yang sejenak duduk diwarung kopi, dengan sebatang rokok kebanggaan, Toppas yang nikmat dan mantap...katanya...

Kakek Jiwo, juga hadir diwarung kopi sebelum berangkat jauh melaksanakan tugas, kakek jiwo ini adalah seorang seniman jalanan, yang menembangkan lagu-lagu jawa kuno dari pintu kepintu yang lain, hanya dalam rangka menutupi kebutuhan sehari-hari ditengah-tengah sulitnya perekonomian.

Kakek Sunaryo, ia berprofesi mencari pelanggan untuk menggunakan tenaga dan jasanya mengantar klien untuk diantarkan ketempat tinggal mereka, yang tak lain adalah tukang ojek...

Sejenak keheningan mulai merayap diantara kepulan asap, sambil menunggu kopi, kakek jiwo  memulai percakapan dengan kawan-kawan seperjuangan, yang hampir setiap hari memulai aktivitasnya dari warung kopi.

Jiwo : bok kopinya sudah siap,..ia kek ntar lagi tak antar, kata ibu warung ke kakek Jiwo, gimana So, belum ada pelanggan hari ini....kalo ngak ada pelanggan berarti tidak ada pemasukan dong So...

Suroso : Ya gimana lagi Wo, masak orang yang silweran didepan ini, aku hentikan dan mengajak maksa mereka, ya tidak baik lah wo, meski aku butuh uang, tapi kan harus dengan cara baik, wo....

Jiwo : ya itu So,,,kamu kan harus lebih giat, dimana istrimu menunggu dengan harap-harap cemas, suapaya dapur terus mengepul...

Suroso : ia ya...kita kan harus tetap semangat, karena hidup ini terus berlanjut ya Wo...kamu sendiri gimana Wo, hari ini targetnya kemana untuk mendendangan lagu-lagu romantis jawa timuran..hahahahaha

Sejenak kakek Jiwo terdiam, seperti ada sesuatu yang mengganjal dihatinya, kala ia hendak mencari nafkah untuk sepiring nasi penyampung hidup cucu dan istrinya, karena kakek Jiwo hanya hidup bertiga bersama satu cucu yang sudah lama ditinggal oleh kedua orang tuanya...

Diantara diam kakek Jiwo, tiba-tiba hadir kakek sunaryo yang baru saja mengantarkan pelanggan kerumahnya, Eh...kamu Yo,,,,,kata kakek Jiwo dengan akrab....ya Wo, gimana kamu kok masih diam disini, kapan kamu akan dapatkan duit??

Tenang saja Yo,,,semuanya bisa datur,,,,ayo ngopi dulu.....sembari Kakek sunaryo duduk disebelah kakek Sujiwo.....Akhirnya ketiga kakek itu melepaskan tawa dengan riak-riak kecil dijiwanya, hendak kemana lagi mereka akan berkativitas mencari sesuap harapa dipagi yang indah dan cerah.

Jiwo : Yo dapat pelanggan, hari ini?

Sunaryo : baru satu Wo, ya cukup untuk ngopi dan beli beberapa batang rokok...lah kamu kapan berangkat Wo,,,,Mentari sudah agak tinggi ini...

Suroso : ntar lagi dia juga berangkat,,tinggal menyeduh kopinya sampai habis,,,dan satu batang rokok diisep habis,,,baru dia lebih semangat...hahahahaha.....tetep Happy Wo,,meski ekonomi sulit...wong sudah kondisinya seperti ini,,,mau mengeluh pada penguasa juga percuma Wo,,mereka sudah sibuk dengan urusannya sendiri..

Jiwo : iya..ya...kok pemerentah sekarang, hanya ngurus perutnya sendiri...kalo hanya butuh suara saja mereka, berlagak sok baik,,,,supaya dipilih oleh rakyat, tapi kita tetap saja melarat So....

Sunaryo : Pemerentah sekarang itu pada bulsiiiitttt....saya sudah ngak percaya pada yang namanya pemerentah itu...bisa nipu doang...betul ngak So, Wo...!

Suroso : Iyaapp ...betul sekali...

Jiwo : ah....males aku bahas pemerentah.....mereka juga ngak tahu,,,kalo perutku kita lapar...bahkan mereka juga ngak mau tahu,,,kadang aku sama istri hanya menanak air semata, untuk ngopati lapar...emang wes keterlaluan, jancoker pemerentah itu......sudah..sudah...aku siap-siap dulu mau berangkat....kalian ngobrol aja sampek puas, pemerentah juga ngak peduli....hahahahahahahahaa..Dengan tertawa lepas, kakek Jiwo beranjak dari tempat duduknya sambil membawa alat musik untuk ditembangkannya dari pintu kepintu untuk mendapatkan gopek...

Soroso, dan Sunaryo...met beraktivitas Wo...moga dapat duit banyak....

Heningpun mengembailkan suasana, suroso dan sunaryo, juga beranjak pergi untuk aktivitas mencari nafkah, Memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Baca Selengkapnya ....

Perjumpaan Yang Dramatis

Posted by Unknown 0 komentar
Saat aku bertanya tentang sebuah perjumpaan, mungkin sama esensinya saat aku mempertanyakan tentang kelahiranku di alam semesta raya ini. Mengapa aku lahir? Tanpa aku ketahui prosesnya, nyatanya seorang Diana kecil ini telah lahir (feels strange) kemudian di dalam proses pertumbuhannya, ia lalu menyadari, bahwa ia tidak sendiri (feels love). Ada ibu dan bapak. Ada kakek, nenek, dan ternyata ada (banyak) kakak pula, ia juga kemudian mengenal dan berjumpa dengan om, tante, dan seluruh keluarga besarnya.

Sama seperti halnya saat aku mempertanyakan mengapa aku kemudian berjumpa dengan kekasihku yang sangat kucintai, yang sebelumnya sama sekali tidak aku kenal (feels strange). Dirimu teramat asing bagiku. Namun ternyata keasingan itu sendiri yang telah menjembatani antara batinmu dan batinku, berkat kesamaan rasa tanpa rekayasa (feels love).

Aku sangat meyakini bahwa di dunia ini tidak ada acara kebetulan. Di dalam setiap penyelenggaraanNya, terdapat kuasaNya atas diri kita (Tuhan mau apa atas diri ini); atas setiap pribadi ciptaanNya. Inilah yang kusebut sebagai saat-saat sakral itu. Saat peristiwa menyentuh sisi kehidupan sakral kita, tak ada cara lain lagi yang harus dilakukan selain hanya menyambutnya dengan penuh syukur. Seperti halnya saat menyadari kehadiran kita di bumi ini, berjumpa dengan orang-orang yang menyayangi kita; keluarga sebagai basis terkecil dari segala perjalanan hidup kita, sekali lagi kita wajib mensyukurinya melebihi segala cita-cita yang pernah berhasil diraih.

Aku juga kemudian menyadari, bahwa di dalam hidup ini terkadang ada (banyak) hal yang tidak perlu dipertanyakan. Bukan berarti tabu untuk diketahui, namun semakin menyadari bahwa di dalam dimensi kehidupan yang banyak sisi dan luas ini, hendaknya jiwa ini semakin mengerti dan peka. Ternyata ada sisi kesakralan yang (seringkali) menyentuh diri, jiwa, dan kesakralan ini adalah mutlak wewenang dari Sang Maha Wenang. Hanya saja, aku terkadang tidak menyadarinya. Harus ada proses agar aku bisa lebih peka lagi merasakan sentuhan-sentuhan kesakralan ini.

Tak perlu lagi mempertanyakan mengapa aku dilahirkan. Tak perlu lagi mempertanyakan bagaimana prosesnya mengapa aku harus terhubung dengan seseorang yang telah menjadi kekasihku atau dengan siapa saja yang diperkenankanNya berjumpa denganku; entah itu hal yang menyenangkan atau menyedihkan, selalu berusaha memperlakukan semua itu sebagai berkat. Serupa buah-buahan yang telah ranum pada musimnya. Satu yang paling terpenting adalah memetik buah-buahan itu dengan rasa syukur yang berhamburan hingga ke langit. Menikmatinya dengan rasa cinta, doa, dan kekaguman yang tiada hentinya. Sebab, Tuhan tidak akan memberikan sesuatu hal yang sia-sia kepada umatNya.

Kekasihku, aku tidak mengungkapkan bahwa aku tercipta untukmu, seperti yang dikatakan oleh kebanyakan orang-orang lain yang sedang jatuh cinta kepada kekasihnya, begitu pun dengan dirimu kepadaku. Aku hanya bisa bersyukur dengan sepenuhnya jiwaku, bahwa aku telah diperkenankanNya untuk menyayangi dan mencintaimu, untuk kemudian sepenuhnya kau bimbing dan kau sayangi dengan segenap waktumu. Saat keajaiban berbicara nyata kepadaku, itulah saat-saat air mataku berlinang.
 
Kangmas Matahariku, terbayangkah berapa liter kubik air mata syukur telah kujatuhkan? Tak terhitung lagi, bagai senyum kita terkembang dalam tiap canda. Pastinya, ia akan menjadi mata air penuh berkah bagi sungai-sungai yang dialirinya dan bagi makhluk lain yang hidup di sekitarnya. Semoga…

Baca Selengkapnya ....

Ada Luka Dibalik Fakta

Posted by Unknown 0 komentar
Hari ini berlalu dengan penuh celotehan, Canda dan tawa mengiringi hiruk pikuk kondisi perkotaan, Nafsu dan angkara murka, disela-sela canda muncul tanpa diprediksi, Mengalir bak air menyusuri lembah-lembah..Alam pun berbicara lantang dengan celotehan malam atas ketidakadilan dari perlakuan ambisi yang kerapkali menjadi tontonan yang mengenaskan..

Menyusuri  jalan terjal dan licin, memanglah tidak mudah, muncul persepsi yang sangat beragam pada perjalanan tersebut, sehingga banyak langkah dan alternatif untuk ditempuh, sehingga sampai pada tujuan yang ingin dicapai.

Sedikit cerita dan berbagi pengalaman yang selama ini mengendap dalam memori, hari ini aku katakan, bahwa hidup itu memang tidak semudah, ketika kita dalam proses merenung dan membayangkan suatu hal, sehingga hal ini sangat nampak nan jelas bagaimana, situasi suka maupun duka, haruslah tetap dijalani.

Saudaraku, ingatlah bahwa hidup ini pada hakekatnya adalah sebuah proses untuk menuju apa yang menjadi impian dalam bentuk bangunan persepsi yang seringkali lontarkan, apakah engkau tidak ingat lagi, dimana tangis, dan riak-riak kecil memenhi sudut ruangan kala itu.

Kita pahami bersama, bahwa dalam diri kita masing-masing memiliki ego yang itu tidak akan pernah lepas begitu saja, tetapi proses penyadaran menjadi hal terbaik bagi semua untuk mencapai tujuan bersama. berbeda pandangan satu sama lain, merupakan nikmat akan kekayaan kita dalam pemikiran, sehingga siapapun tidak berhak mengebiri terhadap kekayaan yang kita miliki, yaitu gagasan dan bentuk gagasan dalam peran dan fungsi yang aplikatif.

Jalan hidup sudah kita tentukan, dengan bangunan persepsi yang kita miliki, tetapi indahnya kebersamaan, saling menyayangi, cinta dan persahabatan adalah hal yang paling  bernilai dalam perjalanan ini, ingatkah engkau, bagaimana ketika kesusahan dan derita menerpa dikau, hingga air mata itu tiada henti mengalir diatas gundah gulana!!!ingatkah engkau bagaimana ketika kita bersama-sama berpikir mengenai kelompok yang lebih besar dan menjadi tanggung jawab kita bersama untuk mencerdaskan mereka, bukan lantas mengebiri, dan menjadikan mereka lelah dan ngantuk dalam berpikir, bukan lantas membunuh kreativitas mereka dengan pertautan yang cemberut..

Ingat saudaraku, hidup ini bukan hanya dijalani hari ini dan besok saja, tetapi esok lusa akan terus terkenang dan menjadi catatan sejarah, sehingga siapapun yang akan membuka lembaran-lembaran tersebut menjadi tahu akan karakteristikmu yang otokrasi, sehingga terjadilah pembantaian massal yang telah membunuh daya dan upaya kreatifitas yang konstiusional dan sistemik.

Tidak ada kata terlambat saudaraku, untuk senantiasa mengurangi egoisme yang terkesan otokrasi yang hanya mengedepankan keinginan-keinginan kita tanpa menyadari banyaknya keinginan orang banyak yang berharap menjadikan situasi dan kondisi itu jauh lebih baik lagi.

Bukan aku yang akan menikmati, tetai semuanya akan merasakan terhadap ulah yang kita perbuat hari ini, bukan pula ingin menghakimi, dan mencari kesalahan orang lain dengan bentuk adegan-adegan sinisme yang terbangun dalam wajah-wajah kebencian.

Fakta ini hanyalah bentuk edukatif kita bersama dalam bentuk catatan fiksi...silahkan dibaca, jika berkenan...terima kasih.

Baca Selengkapnya ....

Kue Itu Hanya Satu Saudaraku!!!

Posted by Unknown Friday, 17 May 2013 0 komentar
Sore yang mulai menapaki senja, semakin gelap kala awan hitam menyelimuti langit, mentari tak lagi menampakkan senyum, hanya saja kegelisahan sangat nampak diantara aura dan wajah-wajah kegamangan. waktu terus berputar, sore pun semakin petang.

Tak ada lawan atau pun kawan yang sejatinya akan selalu menemani hati dalam ruang kesepian. yang ada hanya kepentingan-kepentingan sesaat yang tidak bisa dielakkan mesti akan menuai pengorbanan, hingga bulir-bulir air mata itu menetes tanpa sadar jatuh dikeramaian.

Disini adalah panggung drama, dengan beragam karakter yang dibawa semenjak kita terlahir, kemudian muncul topeng-topeng dengan tujuan untuk menyerang, mengkelabui, dan melindungi siapa saja yang disayang dan dibenci, lawan atau kawan, hingga pada titik tertentu orgasme kehidupan itu akan muncrat dalam kelegaan dan kekecewaan.

Jangan-jangan cerdas, harmoni, dan peduli adalah bentuk komersialisasi dan tujuan yang tulus untuk menggapainya, sehingga muncul wajah-wajah munafik dengan ambisi dan keangkara murkaan dan menjadi pusaran yang kuat untuk menenggelamkan siapa saja yang ada disekitarnya.

Hari aku katakan, putihkan jiwamu, hingga kau bisa melihat mana gelap dan mana terang, rubahlah pandangan egois itu yang terkesan sentimentil dan suka menghujat saudara-saudaranya.

Ingatlah saudaraku, bahwa kekuasaan  itu bukanlah suatu hal yang akan selalu dibangga-banggakan, apalagi hanya dijadikan alat untuk mencapai ambisi pribadi dan menjadikan manusia seperti keledai, yang hanya bisa berkoar-koar dengan suara yang menjengkelkan, dan menjenuhkan.

Mari berperan dengan cantik, sesuai dengan karakter dan pribadi kita, meski harus saling menyakiti, tapi wajib hukumnya untuk saling memaafkan, bukankah hidup itu sangat indah ditengah-tengah badai perbedaan yang acapkali menjadi landasan perbedaan. meski saling berbeda, alangkah eloknya untuk saling menghormati dan sedikitnya saja menunrukan egoisme, supaya kita tahu, mengerti, dan memahami keadaan orang-orang disekitar kita.

Semangat harus tetap terpancar dalam dada, meski tarik ulur perselisihan menjadi irama yang indah dan sangat variatif untuk melakukan adegan dan lakon yang sempurna. Kue besar itu hanya satu saudaraku, tapi ingat itu hanya sebatas amanah, dan menjadi tanggung jawab bersama...hingga kebaikan-kebaikan itu muncul menjadi panorama yang siap menjelajah dunia.



Baca Selengkapnya ....

Aku Apa Adanya!!!!

Posted by Unknown Thursday, 16 May 2013 0 komentar
Saat malam menghampiri, riang kembali keperaduannya, lentera putih mulai menghiasi sudut-sudut kota yang penuh dengan amukan ambisi. pertatutan yang tak kunjung usai menjadi drama yang selalu akan menjadi catatan sejarah dalam hiruk pikuk perjalanan. biarkan orang mencemoh dan membenci terhadap apa yang kita perbuat, dan biarkan mereka dengan bangunan persepsi yang akan terus berkembang sepanjang waktu, hingga cerita itu menemukan ujung yang usai.
Diantara kawan dan sahabat-sahabatku, barangkali akulah manusia yang paling tertutup, hingga mereka mengatakan,...ayolah bergembira ria, jangan merenung terus, dan memikirkan orang lain, cukup engkau berpikir tentang dirimu dan masa yang akan datang, tentu kita akan selalu mendukungmu, sahut mereka.
Malam kian menantang, segelas kopi dan beberapa batang rokok hasil beli eceran ku hisap dalam-dalam untuk menemukan kenikmatan, dan menghilangkan penat yang menggerayang diseluruh badan, al hasil penat pikiran itu, serasa dibawa oleh asap putih itu kelangit ketujuh.
Inilah diriku dengan segala bentuk kekurangan dan kelebihannya, mungkin saja aku manusia yang kurang pandai bergaul, sehingga mereka acapkali memojokkanku dengan guyonan-guyonan yang lucu sampai pada yang paling ironis. ketika orang - orang disekitarku mengatakan, kapan kita akan sukses, semuanya menggelengkan kepala, dan serentak bilang semuanya butuh waktu dan proses yang gigih, serta ketekunan yang istiqomah untuk mencapai kesuksesan itu.
Diantara saudara-saudaraku yang senasib dan seperjuangan bertahan ditengah-tengah kerasnya badai dan kompetisi hidup yang kian berlangsung ini, lantas bukan kepasrahan yang terbanam dalam jiwa, tetapi bertahan dalam upaya-upaya yang harus dilakukan menjadi salah satu motivasi untuk dijadikan dasar dalam melangkah, apapun itu yang pasti tidak melanggar aturan-aturan sebagai manusia biasa, baik secara horizontal, maupun secara vertikal.
Begitu sulitnya mendapatkan yang kumau, itulah faktanya, ini bukan lantas bicara persepsi, tetapi kenyataan itu menjadi pandangan yang transparan. bukan lagi rahasia umum. Kalaupun mereka memandang diriku sok, ngak mau peduli, dan bahkan mencaci bahwa diriku tidak gaul, sehingga kurang disenangi oleh para perempuan. Kalian sungguh ironi, karena kenyataan yang begitu nyata, aku bukanlah seperti yang kalian pikirkan selama ini, sebab auh dilubuk hati, aku masih memiliki nurani yang nilainya tak bisa untuk diungkap dan dibandingkan oleh apapun.
Pandanglah aku dengan hati nurani, dan janganlah memandangku hanya sebelah mata saja, sehingga yang muncul hanyalah kejelekan-kejelekan saja, bukan lantas hal ini menjadi pembenaran dalam diriku, tetapi aku sungguh tersipu malu dengan bangunan persepsi kalian yang beranggapan aku seperti itu, wong Tuhan maha tahu,,,biarkan saja waktu berlalu...
Aku sungguh menginginkan engkau, dan aku yakin engkau teramat mendambakanku, meski kutahu kepura-puraan dan kegengsian masih menyelimuti hatimu...mungkin saja aku tidak setampan yang kau dambakan, mungkin juga aku tak sekaya yang kau harapkan, dan mungkin saja aku bukan perangkai kata yang indah dan menawan, dengan sekali berbisik rayuan kau akan terlena dengan ucapanku...Tetapi mengertilah aku hanyalah makhluk biasa-biasa saja, yang terus menekuni apa yang menjadi kesukaanku...hingga suatu saat nanti, semua yang telah kulakukan tumbuh, berkembang dan semoga aku masih bisa menuai hasilnya untuk kupersembahkan untukmu..untuk kita,,..
ya Tuhan...sungguh aku berharap-harap dengan cemas, meski sindiran-sindiran itu kerapkali menusuk jantungku...aku butuh kalian, untuk menjadi saluran yang saling bersentuhan untuk sampai pada pelataran hati yang membeku dan membisu...

Baca Selengkapnya ....

Kategory

Flag Counter

Followers