Kasih Ibu Yang Tak Akan Pernah Pudar..

Posted by Unknown Tuesday, 28 May 2013 0 komentar
Semerbak aroma bunga dalam kerinduan yang melekat dalam jiwa, akan selalu terdengar meski gelombang besar mencoba untuk menghapus segala pertautan, karena hidup ini tak akan pernah terhenti disini, hingga ujung kematian memisahkan diri dari raga.

Tak bisa kubayangkan goresan yang siap menyayat jiwa yang penuh dengan kasih sayang, sementara desakan-desakan dari pikiran-pikiran eksternah terus mendesak dan tak mau menerima kenyataan, itulah dimana salah satu temen, Sebut saja namanya Gery  (nama fiktif), yang harus melakukan perlawanan secara halus karena tekanan dan kekangan menjadi virus yang harus membuatnya memberontak setiap sesaat.

Ketika air mata itu mengundang tangis dan aliran kebencian yang tak berpihak, tersudut dalam arah kegamangan, namun Gery sudah mampu menepis kegamangan itu, sehingga kisah yang terus berjalan dalam pusaran-cinta-untuk-memilih hingga pada akhirnya pelaminan itu menunggunya untuk menuai cinta yang akan seluruhnya tertumpah dalam hati sang pujaan hati.

Kemana hati ini akan mencari obat penawar dalam segala luka  yang tersayat oleh tradisi yang mengekang, betapa rindu sang ibu tak akan pernah pudar, sebab cinta dan keinginannya yang begitu besar, sehingga nurani itu bagai tergores oleh pisau yang tajam.

Waktu terus berjalan, perlahan-lahan Gery mendekati ibundanya, dalam suasana hening Gery berusaha untuk mengutarakan keinginannya soal bagian dari jiwanya yang terbuang oleh adat mereka, Mi...sejenak keheningan terdiam dalam suasana sepi, Ia Ger..sini nak mendekatlah ke Umi...Mi sebenarnya ada hal penting yang ingin kuutrakan pada umi, soal aku, dan hidup yang ingin kujalani, tapi......Sejenak Gery terdiam dan terpaku....tapi apa nak, jawab Uminya...Dengan mengambil nafas panjang, Gery mulai mengutarakan kegelisahan dalam hatinya, Mi...dengan segala hormat, dan permohonan maaf, anakmu ini mungkin selalu membuat kesalahan yang teramat sangat, anakmu ini sering tidak patuh dan melanggar aturan keluarga dengan selalu keluyuran tiap malem, maka malam ini aku bersimpuh dihadapan umi memohon maaf dengan ikhlas dan kerelaan hati.

Anakku...maafku dalam hati akan selalu dan terus ada untukmu, cinta dan kasih sayang seorang ibu pada anaknya sampai kapanpun tak akan pernah pudar, maafkan Umi juga anakku, sebab seringkali larangan dan berbagai aturan yang dibuat hanya semata-mata karena cinta dan kasih sayang yang melekat pada diri ini untuk anak-anaknya, bukan untuk siapa anakku...ya, sekarang katakan dan sampaikan pada umi, apa yang engkau ingin utarakan? Kembali keheningan pagi yang sejuk itu menyeruak dalam pikiran Gery, antara ragu dan bimbang untuk mengutarakan perihal isi hati tentang masalah hidup dan masa depannya dengan kekasih sang pujaan hati..

Umi....Gery memulai perkataanya, yang ingin anakmu katakan ini mungkin saja adalah hal yang dibenci atau tidak sesuai dengan harapan keluarga, tetapi apa boleh buat ini merupakan pilihan dan jalan hidupku, apapun resiko yang akan terjadi, tentu anakmu ini sudah siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi, sebab cinta, kasih  sayang, dan harapanku sudah bulat dan aku putuskan untuk melangsungkannya umi.. ia, apa itu nak...Umi Gery memandang anaknya penuh keheranan, karena tidak biasanya putra busngsunya itu berbicara halus dan sangat sopan, seperti yang terjadi pagi ini. Kecurigaan mulai merayap pada pikiran ibunya Gery..

Gery kembali menarik nafas panjang, sebelum mengutarakan isi hatinya yang sudah lama terkubur dibalik kebohongan-kebohongannya. Gery kembali lagi memulai perkataannya, Umi sekali lagi anakmu ini memohon dan meminta maaf dengan kegala keihlasan dan kerendahan hati, aku sampaikan pada umi sekaligus memohon doa restu dengan penuh harap, bahwa pada bulan mendatang anakmu ini akan melangsungkan pernikahan dengan kekasih pilihan hati, karena Gery yakin terhadap  perempuan yang akan menemani hidup anak umi ini sudah tercipta untukku dan akan selalu menjadi pendamping hidupku, meski keluarga sangat tidak menginginkan hal ini, tetapi ini sudah menjadi pilihan hati, dan InsyAllah ini adalah kehendak yang maha kuasa..Keheningan kembali menyeruak dalam pikiran masing-masing, Ibu Gery terdiam antara percaya dan tidak percaya dengan keputusan anaknya yang tetap dianggap menyalahi kebiasaan dari bangsanya,,. ibu Gery sudah tidak tahan, dan air matanya itu berderai perlahan, mendengar ucapan anaknya, tetapi apa boleh buat keputusan Gery sudah bulat, meski restu ibunya tak mampu Gery genggam untuk dibawa kepelaminan.

Sang ibu pun menundukkan kepalanya, selendang yang menjadi kerudung itu pun dibuat untuk mengusap air mata yang mengalir perlahan tanpa henti, bagai aliaran air kecil diparit yang jernih mengalir kesebuah lembah, terasa melayang dan penyesalan kembali dalam alunan jiwa sang ibu..dengan berat hati akhirnya sang ibu berkata, Nak Umi tidak bisa memutuskan, atau bahkan mengamini keputusanmu, tetapi apa yang kamu lakukan,,kasih sayang ibu tidak akan pernah pudar untukmu....

Bersambung >betapa-aku-takut-dengan-bayangmu

Baca Selengkapnya ....

Hadirmu Selembut Belaian Sutra

Posted by Unknown Monday, 27 May 2013 0 komentar
Bagai kapas yang terbang mengikuti arah angin..

Engkau datang dengan senyum yang merekah..

Seperti busur yang menyelinap dalam relung jiwa terdalam..

Lembut tanpa terasa menjangkiti hati yang tak ingin pudar oleh cinta dan kasih sayang..

#

Sungguh aku tak ingin air mata itu terus menetes..

Pada jemari kepedihan yang berjalan bagai sapuan ombak..

Ditengah kebisuan dan kerisauan..

Aku terus mencoba mencari setitik yang terang...

#

Meski jiwa kita terpasung..

Dalam alunan rindu dan dendam..

Tak ingin tembok yang tinggi menjulang tetap menghalangi gerak dan langkah..

Dalam bongkahan impian yang tertutup rerimbunan.. 

Created by : Faisol

Baca Selengkapnya ....

Nyanjian Jiwa

Posted by Unknown 0 komentar
Di dasar relung jiwaku Bergema nyanyian tanpa kata;
sebuah lagu yang bernafas di dalam benih hatiku,

Yang tiada dicairkan oleh tinta di atas lembar kulit ;
ia meneguk rasa kasihku dalam jubah yg nipis kainnya,
dan mengalirkan sayang, Namun bukan menyentuh bibirku.

Betapa dapat aku mendesahkannya?
Aku bimbang dia mungkin berbaur dengan kerajaan fana
Kepada siapa aku akan menyanyikannya?

Dia tersimpan dalam relung sukmaku
Kerna aku risau, dia akan terhempas
Di telinga pendengaran yang keras.
Pabila kutatap penglihatan batinku

Nampak di dalamnya bayangan dari bayangannya,
Dan pabila kusentuh hujung jemariku
Terasa getaran kehadirannya.
Perilaku tanganku saksi bisu kehadirannya,
Bagai danau tenang yang memantulkan cahaya bintang-bintang bergemerlapan.

Air mataku menandai sendu
Bagai titik-titik embun syahdu
Yang membongkarkan rahsia mawar layu.
Lagu itu digubah oleh renungan,
Dan dikumandangkan oleh kesunyian,
Dan disingkiri oleh kebisingan,Dan dilipat oleh kebenaran,
Dan diulang-ulang oleh mimpi dan bayangan,
Dan difahami oleh cinta,
Dan disembunyikan oleh kesedaran siang
Dan dinyanyikan oleh sukma malam.

Lagu itu lagu kasih-sayang,
Gerangan ‘Cain’ atau ‘Esau’ manakah Yang mampu membawakannya berkumandang?
Nyanyian itu lebih semerbak wangi daripada melati:
Suara manakah yang dapat menangkapnya?
Kidung itu tersembunyi bagai rahsia perawan suci,
Getar nada mana yang mampu menggoyahnya?
Siapa berani menyatukan debur ombak samudra dengan kicau bening burung malam?
Siapa yang berani membandingkan deru alam, Dengan desah bayi yang nyenyak di buaian?
Siapa berani memecah sunyi
Dan lantang menuturkan bisikan sanubari
Yang hanya terungkap oleh hati?
Insan mana yang berani melagukan kidung suci Tuhan?

Baca Selengkapnya ....

Hanya Engkau Kekuatanku

Posted by Unknown 0 komentar

Gemerincik suara hati bertalu-talu...

Berdendang tanpa akhir aku pandang..

Melantunkan doa suci dalam nurani..

Pada kisah yang terus bergulir menjadi kristal air mata suci...

Lankahku..

Gerakku..

Pandanganku...

Jiwa dan hatiku....

Serta nafsu-Ku..

Adalah milik-Mu..

Tiada aku berhak menuntut lebih dari-Mu..

Sementara gubangan itu teramat kecil untuk menumpahkan lelah yang menggelisah..

Nafas pun mendesah...

Aku janji..

Semuanya harus memiliki bukti...

Bahwa yaqin jangan sampai terbeli...

Oleh koin-koin duniawi...

Hanya pada engkau wahai Tuhanku...

Penguasa semesta alam..

Menjadi kekuatan dalam langkah yang buram...




Baca Selengkapnya ....

Bagai Langit Tanpa Bintang!

Posted by Unknown 0 komentar
Gelap tanpa terasa sudah hadir menghampiri kegundahan dan kegelisahan yang muncul tanpa aku duga sebelumnya, Tuhan apakah engkau begitu cintanya padaku, hingga engkau memberikan ujian yang kadangkala aku bingung dengan semuanya. Ketika jiwa ini harus menjerit dengan tangisan yang sahdu, pada siapa pula pengaduan itu aku lepaskan, bak busur yang menancap pada dinding besar. Seperti sendiri dalam alunan irama yang mengebiri.

Langkah terseok, air mata rasanya tak pernah lelah mengalir dalam kidung cinta dan emosi yang membara bersahutan, menggenggam keyakinan yang tak ingin lusuh oleh waktu dan zaman, sampai kapan akhir dari persoalan yang telah kumulai ini hingga usai.

Semangat ini tidak boleh runtuh, meski gelombang besar menghantam dalam pusaran keyakinan, sebab cinta, luka dan bahagia adalah sepasang kekasih yang tak akan pernah hengkang dalam lukisan sejarah.

Seperti air yang mengalir menyusuri lembah..
Tiada henti untuk berkiprah..
Dengan pengetahuan dan keyakinan..
Aku terus melangkah dan belajar..
Hingga malam datang menjelang..
Dalam gelap yang bertautan..
Sebab cahaya tak lagi merekah..
Dalam pesona hidup yang memerah..

Laksana langit tak berbintang, gelap yang jauh cukup panjang, tanpa cahaya sebagai penerang, terseok dan tertatih merangkai bait-bait kehidupan menjadi bangunan indah yang penuh dengan makna surgawi. sepi sendiri seakan tanpa siapapun untuk berteduh, sekedar melepaskan keluh-kesah, semuanya lari tanpa ada hitungan jarak, hanya kepentingan sesaat, kemudian menyelinap dan menghilang dalam gelap.

Hanya setitik keyakinan yang ranum, masih aku terus lestarikan sebagai jalan sekaligus penerang untuk menggapai impian yang panjang.

 
 


Baca Selengkapnya ....

Saat Embun Menetesi Daun-Daun

Posted by Unknown Sunday, 26 May 2013 0 komentar
Selamat Pagi...

Sejukmu membangunkanku dari ranjang mimpi..

Lama kumerenung..

Dalam rindu yang terpasung..

#

Gemercik air..

Menambah sejuknya jiwa, kala kuusap pada mukaku yang kering..

Menjadi air wudhuk..

Untuk mendamaikan jiwa-jiwa yang sedang mabuk..

#

Aku ikhlas..

Pada puisiku yang mulai mengeras..

Karena sabda Tuhan, pastilah kubalas..

Dalam cinta dan air mata yang mengalir tanpa batas..

Sebagai simbol atas rinduku yang memanas..

#

Termangu bersama tetesan embun..

Bertengadah dalam kesejukan cinta..

Menari dalam buaian asmara..

Lalu kuhirup kasih Tuhan yang menyerap pada semesta..

#

Begitu indah dan sejuk..

Kala engkau bangunkanku dari rindu yang terlelap..

Meski aku harus diam sejenak..

Bersama embun yang mengalir lembut dalam benak..

Baca Selengkapnya ....

Kalian Jerat Aku Dengan Benang Sutra Kemewahan

Posted by Unknown 0 komentar
Ketika sang buah hati terlahir pastilah keinginan besar sang ayah bunda mengharapkan yang terbaik untuk anaknya,akan tetapi jalan manakah yang akan di pilih? Teka-teki masih bergelayut dalam pikiran dan bayangan.

Ketika berumur 1-6 tahun adalah masa 2 kepekaan otak bawah alam sadar seorang anak

Orang tuaku sangatlah keras hingga ke bawa ke dalam bawah alam sadarku hingga dewasa masih melekat kuat, takut berucap,takut bertindak karena kerasnya seorang bapak dan ibu hingga membunuh semua kinerja otakku, dan masa-masa itu masuk kebawah alam sadar. Mereka masih mengikuti tradisi jaman dahulu tanpa memandang masa sekarang, aku tidak pernah di beri jalan untuk berkembang dengan segenap keinginan dan kemampuanku, pada akhirnya aku masih dianggap seperti anak kecil, yang harus dibiming untuk berjalan.

Apapun itu harus mengikuti apa kata orang tua, beruntung aku sekolah di pondok pesantren modern yang lepas dari lingkaran keluarga selama enam tahun, dalam perjalanan enam tahun itu aku dapat membuktikan bahwa aku bisa berkreasi dan otak pun mau bekerja keras sesuai keinginan hatiku, prestasiku dapat juara dengan kemampuan yang tinggi aku raih, mesi tak sempurna harapan, tapi apa daya ketika lulus aku harus berhadapan dengan mereka kembali, dan lagi-lagi aku ada dalam aturan yang tidak memungkinkan aku untuk berkembang, namun dengan usaha dan upayaku yang sangat keras untuk mengembalikan performa otakku sedia kala seperti waktu Smp/Sma tetap tak menuai hasil, orang tua mana yang menginginkan anaknya gagal dalam segala hal? jawabnya tidak ada, orang tua mana yang mau menyesatkan anaknya? jawabnya pun tidak ada. Akan tetapi ada orang tua yang membuat anaknya jadi tersesat dan gagal, keinginan keras demi orang tua pun sia-sia karena satu kata dari orang tua yang terucap kemudian itu fatal yaitu “ tidak mengikuti kata orang tua dan berbohong pada orang tua bisa ngak selamat” 

Kembali lagi otakku tercemari dan harus dicuci sesuai keinginan mereka dengan dalih itu yang lagi-lagi mengganggu aktifitas otakku, kosentrasi pun buyar, okelah aku ikutin aturan mereka, namun aturan mereka membuatku seolah-olah kebingungan dalam berjalan,gelap terasa memandang jauh kedepan, karena bertentangan dengan segenap karakterku yang bias dikatakan sedikit liar untuk berkreasi, sedikit demi sedikit pun aku kasih penjelasan pada mereka dengan lemah lembut tapi mereka menolaknya dan menganggap aku mulai berani melawan titah orang tua yang harus menjadi raja, tanpa harus ada penolakan sedikitpun, bicara dan kurang ajar pada mereka, seiring waktu seperti itu terus berjalan seolah tanpa batas, selalu aku cari jalan agar performa otakku kembali semula, tapi itu hanya sia-sia belaka, dengan kerasnya mereka aku serasa buta masa depan, aku tidak dapat menentukkan masa depan mana yang aku pilih? serasa di depan itu gelap gulita, yang ada adalah menggantung pada mereka, rasa ketergantungan itu makin menjeratku pada lingkaran panas, “ kamu minta apa saja orang tua kasih asal nurut pada orang tua” ok, aku lakukan, demi kebutuhanku kuliah aku minta pada mereka, apa pun aku bicara pada mereka. Aku tidak sadarkan diri jika segala pemberian itu makin  menjeratku, hingga masalah waktu pun terbatas untukku, aku rasa ruang gerakku makin di belenggu.

Bagaimana aku bisa berkreasi dan otakku mampu bekerja sebagaimana orang-orang yang berfikir jernih?...
Pertanyaan itu slalu bersemayam di pikiran hingga memakan semua kemampuan fisikku dan jatuh sakit,sakit pun masih di salahkan yang tidak nurut sama mereka lah,kesehatan tidak dijaga lah,mereka bicara “ nak jangan terlalu banyak beban mikir,inget kesehatannya” iya..tapi siapa yang mampu mengurangi beban pikiranku sedangkan aku harus dan selalu memikirkan aturan yg mereka buat, kemudian aku jujurkan pada mereka apa yg menjadi penat di otakku..tapi jawaban dan tanggapan mereka menolak kejujuranku,cuman bisa bicara kalau orang tua itu paham prasaan anak,orang tua itu peka tapi apakah itu yg disebut peka segala sesuatu yang ku ungkapkan dianggap tidak sopan terhadap orang tua,hingga otakku bertindak tidak terkontrol dan membuat sebuah keputusan “ apalah artinya kejujuran jika tidak di terima?maka kebohongan itu lah kejujuran bagi mereka”  aku jalani hidup ini penuh dengan kebohongan pd mereka,dosa lah aku,tapi ALLAH MAHA MENGETAHUI SEGALANYA. Segala ucapan yg keluar untuk mereka sedikit pun tidak ada unsur kejujuran,aku mulai lagi menginginkan sebuah suasana dingin dg sebuah kejujuran yaitu soal pasangan hidup, mereka melonjak tinggi dengan berkata “ awas ya jangan sampai dapat selain kalangan kita sendiri,kalangan kita jg banyak yg lebih baik” tanpa ada alasan yang benar-benar jelas dari mereka dan juga berkenaan dengan agama kemudian muncul pertanyaan kenapa aku tidak boleh memilih jln hidupku sendiri…semakin buta lah apa yg ada di depan hadapan ku ini. Tidak ada 1 pun dari saudara2 ku yg mendukung aku dalam memilih jalan hidupku,seolah2 langkah2 ku mereka lah yg menjalankan,
 
ungkit demi ungkit terjadilah perdebatan antara aku dengan saudara-saudaraku, ternyata apa yg slama ini mereka beri hanya lah semata tuk memimpin langkahku,mereka berkata “ kamu kurang apa orang tua berikan sama kamu?km minta apa saja di beri,tapi begini caranya kamu berbalas budi?biaya orang tua untuk kamu gak sedikit,kamu bisa beri apa ke orang tua? “ aku shock sekali dengan pertnyaan2 itu kata2 itu mematahkan sendi2 pergerakanku. Fatal sekali,jadi pemberian mereka hanya lah senjata bagi mereka yg siap di luncurkan saat aku berdiri tegak, lalu..jika tidak pada mereka aku meminta biaya hidup slama aku ada dalam pendidikan kepada siapa lagi?apa kah itu yg disebut orang tua?lalu mana orang tua ku yg bener2  ikhlas pada anaknya?mendapatkan jawabannya sangat sulit. Aku hanya mencari dan berharap ada seorang yg dapat mengulurkan tangannya kemudian menarik aku keluar dari lingkaran itu. Dengan usia yg sedemikian masih dianggap anak kecil..

Tapi dengan kebohonganku pada mereka menghasilkan daya kerja otakku kembali,aku mendapatkannya,aku sedikit dapat bicara,yang awalnya ada di otak tapi tidak dapat di ucap namun dengan demikian sedikit demi sedikit otak dan hatiku mulai bekerja sama.
 
Aku terus berlari, lari dan lari…trauma rasanya saat aada perkataan tentang kata2 keluarga..karena keluarga aku lemah,karena keluarga masa depanku gelap,karena mereka juga kesuksesanku tertunda yang tidak dapat diketahui hingga kapan.
TIDAK SEMUA KELUARGA ITU BENAR MENURUT PERSEPSI MEREKA, MESKIPUN WUJUDNYA BAIK.

By: Pein

Baca Selengkapnya ....

Para Pelayan Tuhan..

Posted by Unknown 0 komentar
Kurenungi malam ini, bentuk kegelisahan hati yang tak berujung, menuai tanya tanpa ada kepastian dalam hruk pikuk kehidupan mencari sebongkah kebenaran yang hampir setiap saat diplesetkan oleh pikiran-pikiran nakal dan liar.

Seakan tanpa jejak kita mencoba membangun dan merangkai kembali tuhan-tuhan baru untuk dilayani, tuhan sebagai pemuas kenikmatan dan kesenangan yang arogan. Kembali merebak dalam berbagai bentuk keyakinan yang terstruktur oleh aturan-aturan yang mengikat dan mengharuskan pikiran-pikiran liar itu harus patuh dan tunduk pada aturan yang seringkali dipaksakan dengan atas nama adat-istiadat yang hukunya wajib untuk diikuti. keliaran pikiran kahirnya terpenjaran dalam ruang yang terbatas.

Sepertinya aturan itu adalah hasil pikiran-pikiran yang disepakati secara berkelompok, siapapun denggan rangkaian bahasa yang indah dan apik, berupaya membuat pembenaran-pembenaran dengan berpedoman pada akal yang licik untuk mempropaganda pembenaran dengan mengatasnamakan kitab yang paling suci sebagai pedoman untuk melayani Tuhan.

Tuhan yang mana untuk dipatuhi dan dilayani setiap saat? apakah Tuhan perlu untuk dilayani? semuanya hanya ada dalam hati setiap insan yang bertuhan...

Makin banyaknya agama sebagai keyakinan untuk berjalan menuju yang hakiki, justru menambah kebingungan dan ketidakberdayaan pemeluknya, semua berdalih bahwa kita sebagai manusia wajib hukumnya untuk melyanani Tuhan, apakah itu sebagai bentuk doktrin, dengan membersihkan otak-otak yang sudah penuh dengan kesibukan setiap saat, dan untuk mencari kedamaian dalam hati, dengan menjadi pelayan Tuhan..

Bukan dalam rangka mendiskreditkan para perempuan yang harus bersimpuh untuk menjadi orang nomer dua, tetapi lembah persoalan yang seringkali menjadi kontroversial, berawal dari keinginan-keingina yang meletup-letup dalam diri, masih ingatkah perempuan pertama yang bernama ibunda Hawa sebagai selimut cinta bagi sang Adam, disitu masih banyak penafssiran yang cenderung debatebel, mengenai hal diperbolehkan ataupun sesuatu yang dilarang, dan pihak ketiga tetaplah berperan sebagai sang penggoda untuk merayu dan melakukan hal dilarang, yaitu melahap buah khuldi ditengah taman surgawi.

Jika kita pelayan sejati Tuhan, maka layanilah Tuhan, Jika kita pelayan iblis, layanilah iblis itu dengan sepenuh hati, Jika kita pelayan diri dan Tuhan maka seimbangkanlah perjalanan menunju kedamaian, semuanya memiliki konsekuensi yang harus dijalani, tak peduli apakah engkau orang hitam, putih, kuning langsat, atau orang yang berkulit sawo matang.

Pelayan-pelayan Tuhan, apakah bidadari surgawi, atau para bidadari yang masih berkeliaran dan masih menghembuskan nafas didunia, masih penuh dengan tanda tanya yang tak terpecahkan, meski banyak pembenaran-pembenaran dalam kitab suci yang menjadi keyakinan pada tiap-tiap agama yang dianut.

Para pelayan Tuhan pasti cantik dan eksotis, sehingga yang memandangnya akan takjub dan terpana...silau oleh keinginan dan nafsu yang ambisius.

Baca Selengkapnya ....

Penuhi Cintaku Dengan Ayat-Mu

Posted by Unknown Saturday, 25 May 2013 0 komentar
Malam kian menyepi, pelan-pelan keramaian mulai kembali satu persatu pada persinggahan, canda dan tawa sudah tak terdengar lagi, menunggu hari esok dan berharap mentari hadir dengan cahayanya yang cerah, dan mampu menerangi kegelapan dalam hati yang seringkali tak tentu arah.

Dengan ditemani segelas kopi dan rolok eceran, asap itu mengepul terbang keangkasa, seakan tanpa beban dan lenyap ditelan hembusan angin malam. Ya Tuhan yang agung penuh dengan kasih dan rahmat bagi semesta alam, tentu saja aku ingin bergerak dengan cinta yang tertoreh dengan ayat-Mu, meski teramat berat ujian dan cobaan yang harus kudaki. Sesekali air mata ini jatuh tak tertahan dan terharu dalam gubangan rindu didasar jiwaku.

Dimana emosi terbangun saat pertautan mulai muncul, tanpa sengaja, aku mendengar, melihat senyum yang polos tanpa keraguan, serta pergaulan yang lincah menjadikan jiwa ini seperti tersedot dalam keinginan yang besar untuk melakukan kebaikan, tetapi entah mengapa aku sungguh tak kuasa untuk melepaskan kata-kata yang harus kuucapkan, bukan tidak berani ataupun cengeng dengan semua kondisi jiwa ini, tetapi begitu berat untuk merangkai kata yang terucap.

Kembali lagi kedalam diri yang masih penuh dengan taka-teki, bukan untuk menyesali, tapi untuk dimengerti, walaupun pada kenyataannya cinta dan persaudaraan masih sangat tipis perbedaannya. Tuhan maha sengaja menciptakan segalanya.

Jika hidup ini memang adalah pilihan dan semuanya wajib untuk memilih jalan yang sesuai dengan kapasitas yang kita miliki, tentu, inilah jalan itu yang aku mampu, meskipun kadangkala susah untuk dipahami, apalagi dijelaskan pada orang lain, cukuplah aku dan Tuhanku yang mengerti segalanya.

Begitu dalamkah rasa dalam hati ini, hingga desiran ombak yang bergulung dijiwamu mampu aku rasakan berhembus pada dinding hati, entah mengapa tiba-tiba terasa sesak dan sedih, bahagia berbaur menjadi satu dan bawaan tubuh ini seperti panas dan dingin, menyelinap pada dinding jiwa yang terus bergelora, bagai pancaran cahaya yang kadang redup, dan kadangpula memantul dengan terang benderang.

 Harapku tak ingin lelah, pada yang kuasa aku berpasrah, rindu dan benci jadilah satu..karena itu adalah pertemuan kehidupan, sebelum perpisahan itu harus berakhir....

Bersambung>>


Baca Selengkapnya ....

Kategory

Flag Counter

Followers